Monday, February 18, 2013

Togian Island


Hujan (Lagi) dan (Lagi-Lagi) Hujan


Hujan lagi berpesta akhir ini dengan riangnya, menggenangi apapun yang tak terlindung. Panas tak pernah bertahan lama, tersapu seketika oleh hujan yang mengamuk menyusur jalan melumat segenap roda yang melintas. Kemacetan dimana-mana satu jam untuk satu kilometer. Ah, telah lama tak ku sapa hujan, Ia semakin dewasa dalam wujudnya memeluk Indonesia dengan eratnya. Ya…seluruh stasiun televisi baik yang plat merah atau plat hitam ramai-ramai menayangkan dampaknya. Hujan telah menjadi primadona di negeri ini. Negeri yang tak becus diurus oleh pengurusnya. Ah, telah lama tak ku sapa hujan, sejak si vita yang mengisi garasiku datang. Ia yang mencegahku bersua hujan, bukan semata karenanya…namun memang aku yang menghendakinya. Tubuh ini seperti renta dalam coba , tak bisa lagi bergumul hujan. Namun itu peringatan bagi orang-orang yang semakin lupa pada Sang Cipta. Ah, telah lama tak ku sapa hujan, sejak kekasihku telah bersanding di ranjangku, tak lagi ku utus hujan menyampaikan salamku padanya. Salam yang setiap detik terucap, dan salam yang setiap detik mengharap. Telah lama hujan menjadi agen mata-mataku untuknya, sedang apa kekasihku disana. Apakah ia sedang tidur dengan bibir lelapnya, atau ia sedang memandang riang dengan bulat bola matanya. Ah, tak ada lagi itu…sejak kekasihku telah bersanding di ranjangku. Ah, telah lama tak ku sapa hujan, bermain riang dalam basah atau berangan liar dalam rentetatnnya. Aku tak lagi sendiri, pun tak lagi berdua…sebab peri kecil telah diberikan padaku oleh Yang Satu. Begitu luar biasanya ia, mengajakku bermain dalam canda. Hari-hari terasa penuh dengan kenikmatan mendidik amanah-Nya. Tangis, senyum, teriak, dan kata-kata yang sedikit-demi sedikit tersusun dalam imajinasinya telah menjauhkan ku dari hujan. Ah, hujan….ah, hujan….salamku untukmu kawan! [Limus, 26 Oktober 2010]

Penarik Rakit dan Sang Angsa


Penarik rakit menambatkan rakitnya diiringi suara adzan maghrib, senja merah terlihat di sisi barat sedang danau bersiap memulai simfoninya. Ia berjalan menuju pondok bambunya yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun. Daun-daun kering pohon bamboo berserakan di halaman rumahnya, tak pernah ia membersihkannya dibiarkan menutupi tanah. Itulah yang memberinya kedamaian alam yang sesungguhnya. Penarik rakit terjaga dari tidur saat serombongan berkas sinar mentari menerobos lewat celah-celah bilik mambunya. Ia terlambat memulai hari dari yang seharusnya, subuh telah jauh meninggalkannya dan terperangkap oleh pagi yang terang. Seakan-akan mulai berhitung tidak dari angka pertama, tapi dari tiga atau empat, ada yang hilang. Penarik rakit selalu ingin memulai dari garis awal bersama mahluk lain menjalani sampai garis akhir hari, tapi tidak kali ini. Ia duduk termangu disisi pinggir tempat tidurnya, mengingat apa yang berbeda dengan malam lalu yang berdampak hari ini. Penarik rakit telah membuka berlembar-lembar gambaran sang angsa di memorinya semalam, memberinya sensasi perasaan yang berganti-ganti tergantung lembaran mana yang sedang ia buka. Berulang….berulang….lagi…dan lagi….sampai dini hari menjadi permulaan ketidak-terjaga-an nya. “Pengalaman adalah guru yang paling baik, dan memori yang tersimpan adalah pembentuk diri kita”, gumamnya. Hmmm…ia berjalan keluar menengok rakit yang masih tertambat dengan embun-embun yang sepenuhnya telah manguap. Ia telah kehilangan keindahan pagi, pergantian dari yang gelap ke yang terang, dari yang sunyi jangkrik ke yang riuh ayam jantan, semua itu tak didapatkannya karena inginnya menghampar kisah lalunya. (Sulewana, 18 Desember 2011)

SANG PANGERAN DAN KUPU


Kupu-kupu terbang tinggi menarik hati sang pangeran// Pangeran terkesima, mengikut kemana sang kupu berlari// Hinggap satu pohon dikejar, mencium bunga dipandang// Pun sang kupu terus menari, berputar…berputar… Diikut sang pangeran// Sang kupu bersua kawan, Keindahan lain dari sebelumnya// Sang pangeran bingung, menyerah pada hasrat Mengejar sang kupu kedua// Sedang, sang kupu ketiga, keempat, kelima,…dan keseratus menunggu dibalik bunga// Sang pangeran hanya kagum keindahan// Keindahan yang berwarna-warni// Keindahan yang belum pernah ia rasakan// Keindahan yang tiada habisnya dicipta Tuhan. [Limus, 26 Oktober 2010]

Wednesday, April 14, 2010

Angsa Lain

Penarik rakit melihat lain angsa mencebur ke danau menebar keindahan, menari dan bernyanyi menghibur alam yang berkabut. Sesekali sang angsa meletupkan lirikan ke arah penarik rakit, seakan bertanya, “masihkan kau memperhatikanku?”
Penarik rakit hanya seorang lugu yang terpaku pada keindahan yang lewat di danau yang menjadi rumahnya. Telah banyak angsa yang dilihatnya di tampungan air ini, meliuk menebar pesona masing-masing. Seakan-akan keindahan tak kan berhenti, selalu ada keindahan yang lain yang datang.
“Inilah keelokan Tuhan.” Gumamnya. Tuhan bisa menciptakan jutaan keindahan yang berbeda pada setiap individu yang dicipta-Nya. Keindahan yang mampu “menyentil” setiap sisi hati manusia, sisi yang Tuhanpun menganjurkan manusia untuk bijak menggunakannya, bahkan menahannya.
Keindahan dan sisi hati manusia bagai dua kutub magnet, yang selalu akan tarik menarik jika berdekatan. Satu hal sangat sulit untuk lepas darinya, sedangkan Tuhan menggariskan bahwa barang siapa mampu menahannya…maka ia menjadi orang yang beruntung. Menahan sesuatu yang semestinya, diperlukan energi yang luar biasa. Energi yang bisa kita sebut sebagai pemahaman, pamahaman akan aturan Tuhan.
Penarik rakit tersadar dari lamunanya, dan ia mendapati sang angsa telah berlalu dari danaunya.

<>Bukaka, 14 April 2010<>

Tuesday, December 8, 2009

"Waktu..."


Seorang pemuda bernama Romi sedang melamun di dalam kamarnya sambil melihat langit malam yang penuh bintang. Dia membayangkan tentang seorang gadis yang bernama Lina, bagaimana perkenalan pertamanya dan betapa membekasnya paras Lina yang cantik. Seakan wajah Lina memenuhi langit diantara bintang-bintang pada malam itu.
(mulai adegan flash back ketika Romi pertama kali bertemu Lina)

Mereka berkenalan di bawah pohon randu di sebuah taman kota. Dengan basa-basi yang dibuat-buat akhirnya mereka berkenalan dan ngobrol kesana-kemari. Romi memandang wajah Lina dan tak mau melepaskan pandangannya, hingga suatu saat mata Lina tidak melihat ke arah Romi tapi melihat seseorang yang berada di bangku sebelahnya yang ada di belakang Romi. Romi heran melihat sikap Lina, dan menoleh ke belakang siapa gerangan yang diperhatikan oleh Lina. Seorang pria memakai jas dan celana panjang biru tua dipadu dengan kemeja biru muda dan berkacamata. Dengan buku, tepatnya sebuah komik di tangan dan sesekali sang pria tersenyum kecil seakan komik itu menceritakan sesuatu yang menggelikan. “Sialan! kau duduk bersamaku disini, tapi kau perhatikan orang lain,”umpat Romi dalam hati.
“Kau kenal orang itu?” Tanya Romi pada Lina.
“Ya, aku mengenalnya!” jawabnya yakin.
“O ya, siapa namanya? Kenal dimana? Berapa lama kenalnya? Sering main ke tempatmu?” pertanyaan Romi mengalir bertubi-tubi seperti berondongan brondong (pop corn).
“Aku kenal belum lama, baru beberapa saat tadi.”
“Baru tadi? Bukankah kau ada bersamaku beberapa menit lalu?”, kataku.
“Coba kau lihat lagi pria itu, apa kau tak mengenalnya?”
Romi melihat lagi sosok manusia itu, tak mengenalnya, tapi Romi merasakan sesuatu tapi tak tahu.
“Tidak!” jawabnya.
“Massa? Coba kau lihat lagi.”
“Nggak! nggak tahu ya nggak tahu!” kata Romi agak ketus.
“Itu kamu!! Dirimu!! Enam tahun dari sekarang. Kau punya pekerjaan yang mapan, sehingga penampilanmu pun semakin matang, tidak kumal dan suka menggombal seperti sekarang, kau pun menumbuhkan rambut di bawah hidung itu agar dikira dewasa, padahal juga belum begitu. Masih ada sifat kekanak-kanakan dalam dirimu. Itu terlihat dari masih sukanya kau membaca komik dan tersenyum sendiri seperti itu. Dan itulah mengapa kau berkacamata. Menghabiskan sepuluh komik setiap harinya dengan lima judul yang berbeda masih ditambah kegemaranmu main soliter di depan computer, belum lagi acara televis yang tak pernah terlewatkan khususnya acara dangdutan, telah cukup untuk membuatmu bermata ganda. Cuman matamu yang baru itu tidak ada keranjangnya, beda dengan mata yang asli yang penuh dengan keranjang.”
“Hah!!’ Romi seakan tak percaya. “Emangnya kamu peramal, klenik, cenayang, dukun. Kok bisa-bisanya mengatakan orang lain seperti aku.”
“Itu memang kamu. Orang lain bisa melihatnya, bisa berinteraksi dengannya. Tapi kamu tidak akan bisa. Yang jelas kamu tampak lebih menarik kalau seperti itu.” Katanya sambil tersenyum malu.
“Sialan! Pikir Romi. “lalu, apa maksudnya?”
“Maksudnya, aku akan menemuimu waktu kau sudah seperti itu!” kata Lina sambil ngeloyor pergi.
“Hah!! Terus kita?”
“Kita hanya sikap-sikap monyet, jadi apa yang kita lakukan hampir-hampir menyerupai monyet, suka bercanda dengan mimpi yang mengangkasa.”
“Dasar matre sialan. Iya kalo enam tahun lagi aku masih sendiri, kalo aku sudah berpoligami, apa kau akan menemuiku untuk menjadi selir yang ke sekian?” teriakku padanya.
Tapi sepertinya ia tidak mendengarkan, karena sosoknya sudah tak kelihatan. Romi masih saja terus mengumpat dengan kata-kata yang bervariasi. Hingga tiba-tiba banyak orang yang mengerumuni Romi, teman kost dan beberapa tetangga.
“Heh, ngapain kau teriak malam-malam begini? Ada yang merasukimu ya?” kata teman Romi.
Romi tersadar dan akhirnya keesokan harinya ia menemui Lina di alamat yang pernah diberikan Lina padanya. Tapi penghuni rumah bilang bahwa tidak ada yang bernama Lina. Romi semakin bingung, akhirnya pasrah setelah tidak menemukan keberadaan Lina, gadis yang pernah berkenalan dengannya.

(enam tahun kemudian)

Romi duduk di sebuah kursi taman kota dan membaca komik kesukaannya, Kungfu Komang. Ia melihat sekeliling taman, dilihatnya sepasang muda-mudi di depannya saling ngobrol. Tiba-tiba si cewek meninggalkan si cowok dan menghampiri Romi.
“Hai Romi!” sapa Lina.
“Hah!! Lina?”, kata Romi spontan seakan tak percaya.
[]

Fragmen Angsa

Sang angsa menyisir sekian rakit, berharap kan singgah.
Rakit penuh hias yang entah
Membuai dalam angan menunjuk diri
“Akulah yang kau tunggu!”

Hmm..sang angsa mengamat dengan sangat
Menanya pada hati,
Siapakah?
Atau sang lalu yang ku tunggu
Kan merajuk?
Sedang pagi segera berganti….

[Cileungsi, June 09, 2007]

Hujan dan Pedagang DVD

Sore hari langit masih terlihat cerah, semburat merah mulai terlihat menanda hari beranjak gelap. Pedagang DVD bajakan itu pun telah menata sedemikian berjajar barang dagangannya di depan emperan toko. Barat, Mandarin, Korea, kartun hingga lagu-lagu yang tak jarang melantun tersendat semua terpampang siap untuk dijajakan, lima ribu untuk VCD dan tujuh ribu rupiah untuk DVD. Satu dan beberapa orang telah berdiri melihat, memilih dan mencoba di layar tv yang tak lagi jernih. Pun beberapa manusia menjongkok untuk melihat deretan film yang tergantung di bagian bawah tersembunyi di balik film-film normal, sesekali pupil matanya melebar, sesekali berkerut di dahi, dan sesekali tersenyum samar saat telah didapatkan pilihan yang dicari, sebuah film dengan gambar perempuan-perempuan berbusana minim dan berpose aduhai terkumpul dalam satu disc banyak cerita. Sampai-sampai rela berimpit dalam jongok dalam ruang yang sempit demi untuk mendapatkan film “bohay” yang terbaik.
Jauh diatas kerumunan itu awan mulai berkumpul, berdiskusi untuk mengadakan sidak ke bumi. Semakin banyak, kelam dan berangin. Dan serentak menjatuhkan dirinya tanpa peringatan dalam suara yang berentetan. Sang pedagang DVD bajakan dan kerumunannya seketika kaget, bingung dan bubar. Orang-orang melarikan diri dari basah dan sang pedagang sibuk menyelamatkan barang modalnya dalam kardus, sedang hujan tak berencana mereda. Semakin menggenang dan menenggelamkan setiap mata kaki yang lewat.
Sang pedagang hanya duduk termenung di teras toko memeluk kardus yang berisi film barat, mandarin, korea dan beberapa tontonan “bohay” serta lagu-lagu yang tak jarang melantun tersendat, gajinya hari ini terpotong hujan. Tempatnya mengais rejeki yang beratapkan awan membuat pendapatannya ditentukan langit. Jika cerah, ia akan meraup rupiah sampai toko-toko disekitarnya tutup, jika hujan menyapa bahkan sebelum sang pedagang sempat menata dagangannya maka tak serupiahpun didapat. Dan di musim perayaan hujan kali ini, sang pedagang lebih sering berdiam diri di rumah kontrakannya yang berarti tanpa penghasilan, dan para penggemar film termasuk film “bohay” musti menahan diri sampai hujan kembali reda dari hari.
[Desember 07, 2009]

Thursday, December 3, 2009

HUJAN AIR

“Kesempatan telah dilalui....pun saat hujan kembali mereda, dan dunia nampak lebih cerah dari biasanya...”

Berhelai rambut yang tertiup menggores pipi putih, mata oriental memandang kejauhan berharap sesuatu kan datang. Udara semakin berisik saat awan gelap mulai mengayom, dingin menjadi hal yang lebih dulu ada mendekap bahu yang terbuka sebelah. Bibir tipis mulai tergigit mengerling mata ke segala arah, tersentak suara petir yang membahana.....yang dinanti belum juga tiba.
Kegelisahan merayap ke sekujur tubuh, dan kerutan halus mulai nampak di kening.....”cupp!” setetes hujan menciumnya diikuti rentetan berikutnya, semakin beringas oleh gairah yang lama terendap. Sang mata oriental tersenyum....memejamkan mata, menengadahkan kedua tangan dan wajah dan berputar riang diiringi tawa-tawa kecil.
“Ah, kenapa kau lama sekali?” tanyanya tanpa meninggalkan lesung pipit yang tersungging.
“Maafkan aku...” Jawabnya
“Kau pikir aku senang ditemani awan yang selalu muram dan petir yang tak pernah bersuara pelan? Aku telah menantimu berminggu-minggu sampai entah kapan terakhir kali kita bicara.”
“Maaf,...”
“Ah, lupakan maafmu....Apa ceritamu hari ini?”
“Tak ada cerita.”
“Kau masih saja malu bicara, padahal kita sudah puluhan tahun kenal.”
“Kau masih kecil waktu itu...”
“Dan sekarang.....???” tanya sang mata oriental yang tak lagi berputar-putar.
“Hmm....”
“Eh, kau terasa lebih hangat hari ini. Ada yang berbeda?”
“Tidak, masih seperti biasanya. Air bersih, air setengah bersih, air setengah kotor dan air kotor semua bercampur di diriku. Aku tak bisa memilihnya, tak seperti kamu yang diberi kesempatan untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Tapi, kau tak pernah memberikan sisi burukmu pada alam ini, kecuali dampak dari kelebihan berat badanmu yang bisa menyebabkan banjir. Kau tak pernah menumpahkan dirimu dalam bentuk comberan, hampir semua manusia bisa menerimamu, termasuk diriku.”
“Ah,....”
“Kau juga selalu lurus, tak pernah berbelak-belok dalam bersikap seperti kebanyakan manusia, yang ada hanya kadang kau condong kesana atau kesini, tapi arahmu selalu lurus.”
“Hmm..kau masih kecil waktu itu...”
“Lalu..?”
“Lalu...aku musti mengakhiri obrolan kita kalau kau tak kenakan payungmu.”
“Kau ingin aku menghindarimu?”
“Aku ingin agar aku tak terlalu dalam menyentuhmu. Lihat... tak ada rongga diantara kulit dan bajumu, sekarang telah menyatu olehku. Air yang terserap oleh kain yang kau kenakan telah menampakkan keindahanmu, keindahan yang sebagian besar orang berani membayar berapapun.”
“Kau tidak...?”
“Tak ada lagi yang bisa ku tawarkan, karena aku adalah penyusun sebagian besar dirimu...”
[Dec 02, 2009]

Saturday, October 3, 2009

Hari ini bangun bersamaan dengan rengekan Aqeela yang merasa haus, karena semalaman tidur berbalur keringat di sekujur tubuh terutama kepala. dehidrasi menghinggapi dalam kebelum sempurnaan sadar plus kata-kata yang belum mampu terucap sempurna....mengemukalah rengekan yang tidak butuh banyak susunan huruf dan kata...."eeeek......eeeekk..." begitulah terdengarnya yang akan berlanjut menjadi tangisan saat nol respon yang ia terima.
seketika rengekan itu mengaktifkan sensor-sensor pikiran dan tubuhku bahwa ada yang memerlukan bantuan di luar sana. ya...sejak Aqeela lahir, aku dan istri menjadi semacam...memiliki kepekaan yang lebih dibanding sebelumnya. Jangankan rengekan, suara tv pun kadang tak membuat kami bergeming dari keterlelapan tidur. Tapi begitu suara Aqeela yang menyapa....seketika kami akan bergegas melihat apa yang terjadi gerangan, tak peduli kantuk sedang melanda.
Hmmm....sebotol susu yang ku buat dengan takaran yang telah disiapkan sebelum tidur telah menyumbat kedua bibir manis anakku....dan dunia kembali terdiam...kecuali..groookk grroookkk....
Aku pernah menjadi mahasiswa, pernah pula berpikir seperti mahasiswa. Bukan pikiran yang sangat intelektual, membicarakan tentang pembaharuan, demokrasi, keadilan kaum lemah dan sebagainya. Atau pula pikiran tentang akademik, ilmu, teori eksak dan sebagainya.....bukan.
Aku hanya berpikir apa kewajiban dan hak mahasiswa dan dosen....

ah...aku ngantuk dari kata.
salam

Friday, October 2, 2009

Tulis

Tidak selamanya menulis menjadi sasuatu yang menyenangkan, kadang ia malah membuat stress, tegang dan frustasi, terlebih jika tulisan itu berada pada ruang publik. Kata-kata indah, penuh makna, menggelitik dan sebagainya akan berusaha dirangkai sedemikian rupa sehingga "layak dikonsumsi". Kelayakan inilah yang membuat orang kadang menjadi tertekan akannya. Pikiran apakah tulisannya sudah layak atau tidak, bisa diterima atau sebaliknya-dihujat, atau yang lain, sehingga jari-jemari tak pernah sampai menggoreskan kata. Dan selamanya menjadi pembaca, yang hanya bisa manggut-manggut jika tersentuh logikanya atau tersenyum karena terakomodir sisi humornya oleh suatu tulisan.
Namun hal tersebut wajar adanya, latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda yang akan menyebabkan muncul atau tidaknya kondisi tersebut. Tak jarang orang yang teramat sangat lancar dalam menulis dan menghasilkan banyak karya yang bisa dinikmati oleh orang lain. Meskipun masih terdapat pula penulis-penulis yang menulis tanpa arah yang jelas, "hajar" saja layaknya orang autis yang seakan mempunyai dunia sendiri. Tak peduli orang lain memahaminya atau tidak, tak masalah jika ada yang tersinggung.
Meski demikian, semakin banyaknya media menulis di jagad maya ini mari kita manfaatkan untuk menggali, mengapresiasi dan membentuk diri serta lingkungan. Bukan seuatu maslah jika kita memulai menulis dengan cara "autis" terlebih dahulu, sebelum kita mampu menyampaikan sesuatu yang tertata.

<>faruq031009<>

Thursday, June 11, 2009

Ningsih Dalam Sepotong Gethuk (bag. 03)

Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Waktu ku buka sebungkus gethuk dan menawarkanya padamu. Kau mengambil sepotong dan memakannya. Aku memperhatikanmu, kau memang cantik, Sih. Dengan baju putih lengan panjang dan rok panjang berwarna biru, benar-benar membuatmu anggun. Tak ada berbulir-bulir padi di sawah ini pun yang mampu mengenyangkan hatiku selain melihatmu. Kerudungmu masih terlilit di pundak dan Al Qur’an itu pun masih tergenggam erat di tangan kirimu. Seperti biasa, setiap sore kau menuju ke musholla untuk mengaji mempelajari kitab suci dan setelah itu perlahan derajatmu ditingkatkan.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Tak ada keraguan sedikit pun di diriku dan otakku yang dulu pernah berselisih. Tak sehelai rumput di sawah dan tak ada setangkai padi pun yang menegakkan dirinya waktu itu. Waktu hatiku memutuskan untuk menempatkanmu lebih dari gadis-gadis yang ada, yang pernah ku kenal. Tak seorang gadis pun yang mengisi ruang-ruang hatiku sebanyak dan setenteram dirimu, Sih. Kau masih memakan sepotong gethuk itu, Sih, yang seakan terlalu banyak sehingga tak habis-habis, waktu hatiku mengucapkannya. Kau menghentikan makanmu, sepotong gethuk sisa masih ada di tanganmu, kau memperhatikanku tajam.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Waktu kau ku tanya mengapa kau hentikan makanmu. Dengan senyum tipis, bahkan sangat tipis dan tertahan, kau berucap.
“Gethuk ini terlalu manis untuk ku telan, aku takut mencernanya. Aku takut lambungku tak mampu menyerap dan hatiku tak mampu merasakan rasa sayang gethuk ini.”
Aku mengambil sepotong gethuk dalam bungkusan dan memakannya, perlahan ku kunyah dan ku telan. Mengapa...mengapa...mengapa gethuk ini terasa pahit. Tidak seperti biasanya yang selalu enak dimakan.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Aku pun masih bertanya, mengapa aku tak merasakan apa-apa? Merasakan apa yang kau rasakan waktu itu, Sih. Aku hanya merasakan gethuk itu terasa pahit tidak seperti biasanya. Dalam ketidakmampuanku merasakan rasa itu, kau meletakkan sepotong gethuk sisamu, memegang erat tanganku menatap tajam mataku. Tapi aku tak mampu memandang mata teduhmu itu, Sih, dan kau berlalu menyusuri pematang dan semakin jauh seiring suara adzan magrib yang berkumandang mengangkasa bersama senja merah di ufuk barat.
“......Khaya’alas sholaah, Khaya’alal falaakh.....” yah, ternyata Tuhan memang lebih tahu bagaimana memperlakukanku!!

Ningsih Dalam Sepotong Gethuk (bag. 02)

Aku tak merasakan apa-apa,Sih. Hanya perasaan senang dan ingin segera ketemu dengan kamu saat ku pertama kali main ke rumahmu. Pagar dengan tinggi sepinggang mengitari sebuah rumah bercat hijau dengan hamparan taman tersusun rapi. Bouganville aneka warna di sebelah kiri berpadu dengan melati yang tampak baru kuncup menebarkan pesona alam berpadu dalam keindahan. Ada juga sebuah pohon mangga besar berhias anggrek di sepanjang batang. Lalu dirimu muncul dari pintu bertahtahkan ukiran jawa coba menyambutku. Aku merasa senang Sih, melihatmu segar dengan rambut masih basah sehabis mandi menebar senyum ke arahku. Sunggguh, ada yang mendesir di dada, Sih. Tapi aku pura-pura tidak tahu apa itu, yaah, kemunafikan lelaki terhadap kecantikan perempuan yang memunculkan perasaan-perasaan suka. Kau mempersilakanku duduk di kursi taman yang terbuat dari bamboo. Kita ngobrol, becanda dengan banyolanku yang sengaja kurancang untuk membuatmu tertawa. Hingga tak jarang saking kerasnya tawamu, setiap orang yang lewat selalu menoleh ke arah kita, tak terkecuali orang tuamu yang sesekali melongok dari dalam rumah.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Saat pertemuan kita berulang dan semakin sering dan kau pun tak enggan menjalaninya. Aku datang ke rumahmu setiap kali ku ingin melihat wajah cantikmu, dan sayangnya setiap detik ku ingin melihatmu. Maka seharusnya setiap detik pula aku harus ke rumahmu, tapi itu tidak mungkin. Aku siapa dan kau siapa. Kita juga bukan suami istri, setidaknya belum. Meski itu cita-citaku yang ingin ku usahakan. Aku mulai berani mengajakmu keluar, sekedar jalan-jalan masuk pertokoan atau pergi melihat tontonan. Karena di desa kita sering ada layar tancep dengan film-film lokal tempo dulu. Tapi bukan itu yang terpenting, karena selalu ada di dekatmu, ngobrol denganmu, dan tentu saja menikmati wajah cantikmu adalah lebih dari segalanya. Kadang kita pulang larut, dan ayahmu sudah berdiri tegak di depan pintu membuatku bergeming. Dalam anganku selalu ku pikirkan ayahmu berdiri dengan seragam besi memanggul sebuah gada, seperti senjata bima dengan tutup kepala bertanduk dua, bersiap-siap melumat diriku karena membawamu. Tapi itu tidak terjadi, ayahmu hanya diam saja dengan tatapan mata tajam dan itu cukup membuatku sadar untuk lebih berhati-hati dan tahu diri.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Melihatmu setiap pagi pergi sekolah. Sekolah yang tidak perlu lagi berseragam, kalau orang-orang menyebutnya sekolah kuliah. Yaah, aku memang tidak pernah merasakannya, meski itu bukan keinginanku. Ingin ku gantungkan cita-citaku setinggi langit, namun langit itu bertingkat-tingkat dan aku hanya mampu meraih langit pertama dan kau dengan orang-orang setingkatmu terus melaju menggapai langit-langit lain yang lebih tinggi. Aku tidak menyesal, Sih, karena aku yakin Tuhanku tahu bagaimana memperlakukanku. Aku bersyukur mengenalmu, jadi aku tahu sedikit bagaimana orang yang sedang sekolah kuliah. Dengan tas pinggang itu kau berjalan menuju ke sekolahmu melewati hamparan sawah yang padanya ku setiap hari bergumul, yaah petani dan sawahnya. Kita memang berbeda dari segi ijasah-ijasahan, tapi kupikir kita sama dalam berandai dan berangan. Aku berangan memilikimu, dan kau berandai... ...ah, aku tak tahu apa yang kau andaikan. Seandainya saja sama.
”Pung, Banguuuuun!!!!!!!” teriakku pada otakku. “Hidup ini tidak hanya berandai dan berangan, ada yang harus dikerjakan. Baguuuun, jalan, dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan!!”
“Biarin!! Lha wong mikir tentang Ningsih kok ndak boleh!” jawab otakku tak mau kalah.
Saking serunya diriku dan otakku berselisih, sampai-sampai tak bisa dilerai. Hingga suara itu memisahkannya.
“Pung, lagi ngapain, kok bengong? Jangan kebanyakan ngalamun, ntar kemasukan setan.” Kata suara itu.
Aku memang tak asing dengan suara itu, siapa lagi kalau bukan suara Ningsih yang terkasih. Ternyata ia tadi memperhatikanku. Dalam hati aku berucap, “kalau setannya kamu aku nggak keberatan.”
“E...e...enggak kok, Cuma lagi mikir tentang...” aku kebingungan menjawab, lalu kataku sekenanya, “...lagi mikir tentang gethuk!
Kau agak bingung mendengar jawabanku, Sih. Kau bertanya ada apa dengan gethuk? Dan aku pun menjawab bahwa gethuk itu enak, meski makanan lokal, kalau dibuat beraneka rupa, maka menjadi makanan yang istimewa. Kau pun mengiyakannya, meski kau mungkin tak menyadari jika pertemuan kita pun bermula dari gethuk. Lalu aku mengajakmu makan gethuk seperti yang dulu pernah kita beli di tukang gethuk itu esok sore di gubuk pematang sawah. Kau tak keberatan dan ku tunggu hari itu.
-->

Ningsih Dalam Sepotong Gethuk (bag. 01)

Aku tak merasakan apa-apa waktu itu, Sih. Hanya mengalir begitu saja, seperti biasa. Mengingatkan pertemuan kita pun terjadi dengan begitu saja. Kita tak merencanakannya sebelumnya. Kau tiba-tiba muncul di depan gerobak gethuk itu untuk membeli penganan yang terbuat dari singkong, kalau orang jawa menyebutnya pohong. Waktu itu pun aku membelinya, karena gethuk adalah makanan local yang dikenalkan keluargaku padaku. Yaah itung-itung untuk membantu pemerintah menggalakkan cinta akan produk local. Sebab, hamburger, Dunkin Donat masih terlalu tinggi untuk perekonomianku, selain itu, bungkusnya juga terlalu mewah untuk ku pajang di rumah. Kau kan tau Sih, bapak dan simbokku pekerjaannya hanya mengaduk-aduk tanah, menanaminya, dan kalau beruntung akan menuai hasilnya. Itupun pas memenuhi kebutuhan orang serumah.
Aku tak beranjak dari gerobak gethuk, terlalu sayang meninggalkan wajah yang menentramkan itu, ya..wajahmu Sih, serasa menentramkanku. Ah, penyakitku mulai kambuh saat melihat gadis cantik. Kau dengan penampilan sederhanamu, kaos putih bergambar mickey mouse di tengah dipadu dengan celana pendek selutut dan rambut sebahu yang diikat, benar-benar menampilkanmu apa adanya. Apa adanya yang istimewa, tentu saja tak terlepas dari wajah cantikmu. Putih, bersih dengan alis memanjang datar hampir menyatu seakan menegaskan tatapan matamu yang tajam. Kau pun hanya menatap malu penuh selidik saat kuperhatikan terus dirimu. Mungkin kau beranggapan aku terlalu lancang dengan menatapmu. Hingga akhirnya sebungkus klepon dan gethuk yang disodorkan tukang gethuk memecah lamunanku akanmu. Kau berlalu dan berjalan menjauh.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Saat ku kejar dan ku hentikan dirimu. Kau kaget waktu itu, terlihat dari ekspresi wajahmu menunjukkan rasa tidak suka. Dengan sopan ku sapa kamu dan ku utarakan maksudku ingin berkenalan. Kau ragu, dengan masih membawa bungkusan gethuk, kau amati aku dari ujung rambut sampai ujung kaki, kalau-kalau ada yang kurang. Tapi kau tak menemukanya sebagai satu kesatuan tubuh. Mungkin yang kurang dari diriku adalah uang, rupiah terakhirku telah berpindah ke tukang gethuk. Ku ulangi lagi untuk mengajakmu kenalan, ku sebutkan namaku sambil menjulurkan tangan. “Ipung!!”, kataku tegas, seakan namaku adalah nama yang keren. Kau masih ragu, dengan perlahan kau juga mengangkat tanganmu. Kulihat selonjor tangan yang bersih dengan bulu-bulu tipis mengitarinya tampak manis. Ah, lagi-lagi penyakitku kambuh.
“Ningsih!”, jawabmu lirih. Ku jabat erat tanganmu seakan tak ingin ku lepaskan, tapi kau memberi isyarat dengan matamu. Lalu ku coba mengajakmu ngobrol sambil jalan menanyakan segala sesuatu tentang dirimu. Yang terpenting adalah dimana rumahmu, agar aku bisa singgah menyusun angan dan perasaan. Kau agak tertutup saat kita ngobrol, hanya kata-kata pendek yang keluar dari mulutmu setiap kali ku bertanya. Malam itu memang tak berbulan hanya kedipan-kedipan bintang yang bersemayam di langit malam dan singah ke bumi bersama kedua matamu. Akhirnya kau membelok di persimpangan depan, karena rumahmu nomor dua sebelah kanan setelah belokan. Sambil melihatmu pergi, dengan lirih kuucapkan terima kasih atas obrolannya dan ku berjanji untuk main ke rumah keesokan harinya.
-->

Malam

Malam yang kelam tuk menulis sepercik pikiran yang tertumpah. Aku bersua pada dunia yang entah menjejal setiap langkahku dalam ingin. Begitu terdesak mengabai nilai yang pernah ada. Akankah ku kembali pada itu jika hasrat begitu kuat?
Hari-hari seperti fantasi yang tergelar pada layar kehidupan, memainkan satu irama yang masih ku tanya.
Orang-orang seperti bergumam dalam kata di seberang jalan, membicara apa, sedang ku begitu muak sebagian diantaranya.
Aku sedang menyusun diri, sementara coba datang bertubi menjauh ku dari yang lain. Telah lama ku bertahan pada pikirku yang tak ringan untuk menjaga rasa yang sedang kujalani.
Beberapa nama seperti bangsat yang mengusik tenteramku, entah apapun alasannya.
Terusikku akan yang lain merusak seluruh syaraf-syaraf hidupku, meski akhirnya ku kan selamatkan diri dari yang tersisa. Aku mesti bisa untuk kembali pada diriku saat kecewa menyerang dengan riang.
Orang cenderung condong pada satu hal baru yang terlihat menyenangkan, mengabai yang telah ada. Takkan kita temui rasa cukup jika selalu demikian, ku coba jauhkan diri dari itu. Sungguh, aku tak ingin meluka satu rasa yang telah ku pilih. Pun jangan lakukan itu, jika satu nyamanku berulang terusik, berarti Tuhan punya jalan lain.
Permainan tidak selalu harus dimainkan, dan kesungguhan sepertinya harus selalu dijalankan.
Hahaha….
Keindahan selalu muncul mengerling genit di sudut mata lebih indah dari yang kita punya, dan kegilaan tercipta saat kita selalu menurutinya. Tidak akan pernah selesai kita mengejarnya, karena Tuhan maha Indah, Ia mampu menciptakan keindahan-keindahan yang berbeda, yang selalu diingini.
Turutilah terus, dan….kita akan kehilangan semuanya, semua yang sekarang kita punya. Sampai akhirnya kau sadar tentang arti sebuah sikap.

41 menit pergantian hari telah berlalu….
Pagi yang kelam tuk menulis sepercik pikiran yang tertumpah.
Semoga lelahku kan hilang saat rebah, tik..tik…
Kubaca bismillah!!!

Tuesday, May 19, 2009

DALAM RENTANG (sebuah naskah)

Menghampar tidak begitu luas satu tanah yang tertutup hijau rumput. Dedaunan kering masih saja berguguran, berayun di udara dan hinggap di helai rambut seorang gadis yang menunggu. Angin-angin masih asyik bersendau gurau dengan rimbunan pohon menari-nari disela-sela ranting mengusir sisa hangat siang tadi.
Sang gadis memandang segelintir yang lewat, meski tak satupun yang diharap terlihat, sejenak seseorang menyandarkan pinggangnya di sandaran kursi membelakangi sang gadis, sambil kedua tangannya memegang sandaran, sang gadis melirik....

Maya : ”Kita pernah mengalami ini..”
Ipung : ”Apa, seseorang menunggu dan yang lainnya terlambat?”
Maya : ”Bedanya, Aku dulu yang terlambat, dan sekarang Aku yang menunggu.”
Ipung : ”Ku harap Kau tak lebih lama dariku.”
Maya : ”Lama atau sebentar, toh akhirnya kita bertemu...rentang waktu yang membawa kita pada hari ini.”
Ipung : ”Aku hanya mengikuti alur terkecil yang ada dalam benakku, yang sempat tersekat untuk beberapa saat, beberapa saat yang tidak bisa dibilang sekejap. Hingga akhirnya terbuka, dan memberi tanya, ada apa?”
(diam)
”Kau merindukanku?”
Maya : ”Hahaha.....Kau tak pernah berubah, selalu memikirkan fantasi.”
Ipung : ”Fantasi-fantasi itu adalah sebuah potensi, saat mereka menemukan perbedaan elevasi, maka fantasi-fantasi itu akan bergerak dan menghasilkan energi yang dahsyat.......kenyataan!”
Maya : ”Kau terlalu menghayati The Secret?”
Ipung : ”Aku tak sepenuhnya percaya dengan itu, saat mereka mengabaikan campur tangan Tuhan. Karena Tuhan selalu punya kendali terhadap pikiran kita, siapapun, dimanapun dan kapanpun termasuk kita dan hari ini.”
(angin seketika bersiul riuh mengadu ranting, yang tua patah dan terhempas ke tanah)
(keduanya diam)
Ipung : ”Jadi.....kau merindukanku?”
Maya : ”Kau pun?”
Ipung : ”Hmmm......mengapa jawaban selalu punya kecepatan rendah, saat pertanyaan melesat?”
Maya : ”Sebab, pertanyaan hati berbicara tentang dua sisi yang tak selalu mudah dihayati.”
Ipung : ”Kau takut negasi?”
Maya : ”Lebih indah jika seirama, mengalun membentuk nada mencipta rasa tanpa interupsi.”
Ipung : ”Aku pernah membicarakannya dengan seseorang, dan akhirnya Aku menemui kenyataan, tak ingatkah?”
Maya : ”Jangan selalu menganggap berulangnya waktu membawa kesamaan isi. Sungai tak selalu membawa sampah, ada juga biota indah disana.”
Ipung : ”Kita tak selalu tahu bagaimana mendatang? Empirisisme adalah salah satu dasar yang bisa dipakai untuk memprediksi.”
Maya : ”Mengabaikan x-ternal factor?”
(seekor burung hinggap di tanah, mengambil sepotong ranting dengan mulutnya dan terbang lagi, yang lain riang di dahan mengisi telinga yang menyimak)
Ipung : ”Jadi?”
Maya : ”Ya...!”
Ipung : ”Hmmm...., (diam) Bagaimana dengannya?”
Maya : ”Masing-masing mempunyai ingin, menyatu menjadi harap dan mengisi setiap waktu...”
Ipung : ”Aku mendengar....”
Maya : ”Dia datang dan aku menyambut, begitu sebaliknya tanpa melepaskan hati...”
Ipung : ”Lalu...?”
Maya : ”Bunga mawar terbaik yang bisa ditemukannya pernah menempel di pintu kamarku saat Aku mengulang tahun. Hingga teman-teman kost ku yang lain berhamburan keluar karena harumnya.”
Ipung : ”Hmmm......berlebihan!”
Maya : ”Hihihih....aku pernah melihat wajah itu.” (sambil melihat ekspresi wajah Ipung)
Ipung : ”Wajah apa?”
Maya : ”Wajahmu yang seperti itu..., aku masih mengingatnya....wajah seperti itu muncul saat ada coklat di meja kelasku. Waktu itu seketika langit tertutup awan hitam, geledek menyambar-nyambar, angin meliuk-liuk membawa serpihan kertas yang berserakan di dalam kelas....”
Ipung : ”Hiperbola...!!”
Maya : ”Hihihi...padahal, itu kan coklat dari Dessy teman semejaku yang ibunya punya usaha aneka makanan yang terbuat dari coklat. Lagian kita kan bukan apa-apa waktu itu, pacar juga nggak.”
Ipung : ”Hmm...”
Maya : ”Dulu...Kau cukup misterius bagiku, satu orang yang menatapku dari sekian banyak wajah lelaki putih abu-abu. Entah mengapa, saat melihatmu ada semacam harapku di matamu, meskipun kata-kata mu untuk tak sebanyak pandanganmu padaku.”
Ipung : ”Aku hanya mengikuti naluriku.”
Maya : ”Naluri itu juga potensi, ia harus menemukan jalannya untuk bisa menghasilkan energi yang dahsyat.....kenyataan!”
Ipung : ”Itu kata-kataku”
Maya : ”Kau referensiku”
Ipung : ”Hmm....”
Maya : ”Hmm??, tak adakah kata-kata untukku selain hmm....?”
Ipung : ”Itu ekspresi, jangan mendebatnya.”
Maya : ”Kau masih sama, sama misteriusnya seperti dulu..”
Ipung : ”Kecuali perasaanku...”
Maya : ”Perasaan??”
Ipung : ”Padamu!”
(theng!!)
Maya : ”Ah, sama saja, masih misteri.”
Ipung : ”Setiap orang membawa misterinya masing-masing.”
Maya : ”I am a real girl!”
Ipung : “Oh, sekarang kau menggunakan bahasanya Cinta Laura?”
Maya : ”Jangan mulai.....hanya karena kau tak pede menggunakannya.”
Ipung : ”Kita lahir di atas tanah yang sama, apa yang Kau ucapakan dalam bahasa tanah kita, aku sudah bisa memahaminya baik aksen ataupun makna yang menyertainya, tak perlu mengucap bahasa tanah orang lain.”
Maya : ”Itu ekspresi, jangan mendebatnya!”
(theng!!)
Ipung : ”Kau menikah?”
Maya : ”Belum, Kau?”
Ipung : ”Nanti.....”
Maya : “Kau menungguku?”
Ipung : „Perasaan itu tidak bisa dipaksakan pada setiap orang yang kita temui, karena perasaan bukan permainan yang bisa singgah dan berlalu begitu saja pada seseorang. Lobby jiwanya dan eksploitasi raganya, lalu pergi dan berganti...”
Maya : ”Kau akan menemui banyak pemberontak dari pikiranmu itu di jaman ini, walaupun aku sependapat untukmu.”
Ipung : ”Jiwa itulah kunci dari raga dan sikapmu, begitu kau serahkan tanpa akad pada orang yang lupa, maka...”
Maya : ”Apa?”
Ipung : ”Tidak...”
Maya : ”Kau takut?”
Ipung : ”Iya!”
Maya : ”Mengapa?”
Ipung : ”Orang yang lupa biasanya tidak lupa untuk membuat alasan, menciptakan teori, rumusan bahkan undang-undang bahwa sikap ke-lupa-annya itu menjadi hal yang bisa diterima.”
Maya : ”Kau pernah lupa?”
Ipung : ”......Jika yang kau maksud aku lupa untuk bilang perasaanku padamu saat aku masih lugu dulu,.....ya, aku pernah lupa.”
Maya : ”Kau menungguku?”
Ipung : ”Aku merasakanmu..”
Maya : ”Ah, perasaan itu abstrak, terlalu banyak makna, mencabang beribu intepretasi!!!!”
(theng!!!)
Ipung : ”Apa yang kau cari?”
Maya : ”Kau!”
Ipung : ”Lalu?”
Maya : ”Hatimu!”
Ipung : ”Lalu?”
Maya : ”Jawabanmu!”
(theng!!!)
Ipung : ”Hmm...Aku tak bisa menunggu seseorang yang dipunyai....”
Maya : ”Seseorang yang dipunyai tak seharusnya bertemu dengan lain.”
Ipung : ”Tapi Kau pernah melakukannya...”
Maya : ”Aku sudah janji sebelum dipunyai.”
Ipung : ”Jadi...??”
Maya : ”Ya..!!”
Ipung : ”Mengapa?”
Maya : ”Jangan tanya....sebab, sekarang Aku disini.”
Ipung : ”Untukku?”
Maya : ”Untuk kita.....”

*****

<>Sulewana, 01 Maret 2009<>

Sunday, May 3, 2009

Siang Itu...

Bus itu masih berdiam di perempatan sambil menunggu penuh penumpang datang. Satu…dua…orang-orang dengan berbagai kepentingan itu mulai menempati kursi yang tersusun dua dan tiga banjar di sisi kiri dan kanan.
Seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil lengkap dengan tentengan perlengkapan bayinya, bapak tua berkacamata yang sedang asik membaca koran penuh dengan berita krisis global, serta sepasang muda-mudi yang tak jarang mengumbar kemesraan di sebanyak pasang mata laksana dunia milik berdua.
Ah, panas sekali di luar sana, seandainya saja bus ini tak dilengkapi alat penyejuk udara, pun hawa-hawa panas itu kan menyerbu ke dalam menggesek kulit memproduksi peluh, tumpah dengan beraneka macam rasa di hidung dari orang-orang.
Televisi yang terpasang di bagian depan bus itu masih menyala dengan acara kartun anak saat seorang pengamen naik dan mengecilkan suaranya untuk kemudian berdendang menyanyikan lagu dengan suara ala kadarnya, sekadar bersuara untuk mendapatkan receh yang sekadarnya pula. Namun, tak dipungkiri bahwa tidak semua pengamen bernayanyi apa adanya, ada juga yang serius sampai urat-urat lehernya mengembang bak pipa-pipa kehidupan yang kadang mengembang dan mengempis, dan dengan perjuangan yang berat akhirnya menjadi salah satu idola negeri ini. Iya, seorang pengamen yang menjadi idola, seperti salah satu nama acara di tv from zero to hero. Namun jumlahnya tak sebanding dengan ratusan bahkan jutaan pengamen jalanan yang tersebar di seluruh jagat Indonesia semesta ini.
Ah, panas sekali di luar sana, ketika segerai rambut berjepit bunga kecil itu tersibak menampakkan seraut wajah seorang gadis, berbaju putih dengan motif kotak warna hitam dan kerutan di kedua ujung lengan pendeknya, menenteng ransel berjalan ke belakang mencari kursi yang tersisa. Penyegar udara semakin kencang berhembus mendinginkan aliran darah yang menguap. Mata-mata adam malu mencuri lirik pada yang demikian, seakan tak pernah puas dengan miliaran bentuk keindahan hawa yang di cipta Tuhan.
Hmm...

Jejak Kabut

Berbicara tentang hutan ini, tak bisa lepas dari membicarakan kabut. Kabut dalam arti yang sesungguhnya, bukan kabut yang sering dilukiskan oleh penyair, bukan kabut yang terlihat di layar kaca, namun kabut yang benar-benar ku alami.
Siang kemarin, hujan telah berpesta di bumi, mendekap hutan dengan kebasahannya dan menyejukkan hidung penghuninya, pun tak lupa mencetak jejak tanah yang menggelayut di alas kaki.
Sore beranjak maghrib, saat segerombolan kabut menyerbu dari atas gunung turun ke lembah secara kolosal, bak film perang china tempo lampau. Perlahan namun pasti, sisi-sisi pandang manusia terhapus dari mata yang kabur, hanya sekerlip lampu-lampu perumahan yang berpijar bagai bintang, dan kulit mulai merapatkan porinya terpeluk kabut yang menggigil. Aku menikmati waktu ini yang tak kan ku dapat di Cileungsi selain polusi yang bisa mematikan ereksi.
Kabut semakin dominan, menjelajah disetiap sudut ruang meninggalkan lembab di tangan. Orang-orang lebih memilih tinggal di dalam rumah, bertemankan kopi panas dan berbatang-batang rokok yang tersulut sambil melihat TV beraneka channel luar negeri dari pada sejenak menyambut kabut.
Kabut tak datang sendiri, melainkan bersama angin yang mengantar....
Keberadaannya hanya mengikut kemana mereka dibawa tanpa protes, dan lepas maghrib hutan telah kembali terlihat mata tersapu oleh jejak kabut yang kan berulang esok hari di sini.
<>Sulewana, di sore hari<>

Tuesday, April 21, 2009

Ilusi

Ada yang bilang, "Enak jadi pejabat!"
Punya banyak uang dan kekuasaan.
Ada yang ngomong, "Susah jadi orang miskin!"
Kerja sampai kering dan terkencing-kencing hanya untuk nasi sepiring.
Tapi ada yang nyeletuk, "Enak jadi tokoh dongeng!"
Mau korupsi, kejahatan terkoleksi dan masuk pengadilan negeri, tetap tak terbukti.
Sebab, itu hanya fantasi yang tidak benar-benar terjadi. Maka teruslah mendongeng, sehingga kehancuran negeri ini hanya ilusi belaka yang memang mengada-ada.