Malam yang kelam tuk menulis sepercik pikiran yang tertumpah. Aku bersua pada dunia yang entah menjejal setiap langkahku dalam ingin. Begitu terdesak mengabai nilai yang pernah ada. Akankah ku kembali pada itu jika hasrat begitu kuat?
Hari-hari seperti fantasi yang tergelar pada layar kehidupan, memainkan satu irama yang masih ku tanya.
Orang-orang seperti bergumam dalam kata di seberang jalan, membicara apa, sedang ku begitu muak sebagian diantaranya.
Aku sedang menyusun diri, sementara coba datang bertubi menjauh ku dari yang lain. Telah lama ku bertahan pada pikirku yang tak ringan untuk menjaga rasa yang sedang kujalani.
Beberapa nama seperti bangsat yang mengusik tenteramku, entah apapun alasannya.
Terusikku akan yang lain merusak seluruh syaraf-syaraf hidupku, meski akhirnya ku kan selamatkan diri dari yang tersisa. Aku mesti bisa untuk kembali pada diriku saat kecewa menyerang dengan riang.
Orang cenderung condong pada satu hal baru yang terlihat menyenangkan, mengabai yang telah ada. Takkan kita temui rasa cukup jika selalu demikian, ku coba jauhkan diri dari itu. Sungguh, aku tak ingin meluka satu rasa yang telah ku pilih. Pun jangan lakukan itu, jika satu nyamanku berulang terusik, berarti Tuhan punya jalan lain.
Permainan tidak selalu harus dimainkan, dan kesungguhan sepertinya harus selalu dijalankan.
Hahaha….
Keindahan selalu muncul mengerling genit di sudut mata lebih indah dari yang kita punya, dan kegilaan tercipta saat kita selalu menurutinya. Tidak akan pernah selesai kita mengejarnya, karena Tuhan maha Indah, Ia mampu menciptakan keindahan-keindahan yang berbeda, yang selalu diingini.
Turutilah terus, dan….kita akan kehilangan semuanya, semua yang sekarang kita punya. Sampai akhirnya kau sadar tentang arti sebuah sikap.
41 menit pergantian hari telah berlalu….
Pagi yang kelam tuk menulis sepercik pikiran yang tertumpah.
Semoga lelahku kan hilang saat rebah, tik..tik…
Kubaca bismillah!!!
Showing posts with label Harian. Show all posts
Showing posts with label Harian. Show all posts
Thursday, June 11, 2009
Sunday, May 3, 2009
Siang Itu...
Bus itu masih berdiam di perempatan sambil menunggu penuh penumpang datang. Satu…dua…orang-orang dengan berbagai kepentingan itu mulai menempati kursi yang tersusun dua dan tiga banjar di sisi kiri dan kanan.
Seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil lengkap dengan tentengan perlengkapan bayinya, bapak tua berkacamata yang sedang asik membaca koran penuh dengan berita krisis global, serta sepasang muda-mudi yang tak jarang mengumbar kemesraan di sebanyak pasang mata laksana dunia milik berdua.
Ah, panas sekali di luar sana, seandainya saja bus ini tak dilengkapi alat penyejuk udara, pun hawa-hawa panas itu kan menyerbu ke dalam menggesek kulit memproduksi peluh, tumpah dengan beraneka macam rasa di hidung dari orang-orang.
Televisi yang terpasang di bagian depan bus itu masih menyala dengan acara kartun anak saat seorang pengamen naik dan mengecilkan suaranya untuk kemudian berdendang menyanyikan lagu dengan suara ala kadarnya, sekadar bersuara untuk mendapatkan receh yang sekadarnya pula. Namun, tak dipungkiri bahwa tidak semua pengamen bernayanyi apa adanya, ada juga yang serius sampai urat-urat lehernya mengembang bak pipa-pipa kehidupan yang kadang mengembang dan mengempis, dan dengan perjuangan yang berat akhirnya menjadi salah satu idola negeri ini. Iya, seorang pengamen yang menjadi idola, seperti salah satu nama acara di tv from zero to hero. Namun jumlahnya tak sebanding dengan ratusan bahkan jutaan pengamen jalanan yang tersebar di seluruh jagat Indonesia semesta ini.
Ah, panas sekali di luar sana, ketika segerai rambut berjepit bunga kecil itu tersibak menampakkan seraut wajah seorang gadis, berbaju putih dengan motif kotak warna hitam dan kerutan di kedua ujung lengan pendeknya, menenteng ransel berjalan ke belakang mencari kursi yang tersisa. Penyegar udara semakin kencang berhembus mendinginkan aliran darah yang menguap. Mata-mata adam malu mencuri lirik pada yang demikian, seakan tak pernah puas dengan miliaran bentuk keindahan hawa yang di cipta Tuhan.
Hmm...
Seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil lengkap dengan tentengan perlengkapan bayinya, bapak tua berkacamata yang sedang asik membaca koran penuh dengan berita krisis global, serta sepasang muda-mudi yang tak jarang mengumbar kemesraan di sebanyak pasang mata laksana dunia milik berdua.
Ah, panas sekali di luar sana, seandainya saja bus ini tak dilengkapi alat penyejuk udara, pun hawa-hawa panas itu kan menyerbu ke dalam menggesek kulit memproduksi peluh, tumpah dengan beraneka macam rasa di hidung dari orang-orang.
Televisi yang terpasang di bagian depan bus itu masih menyala dengan acara kartun anak saat seorang pengamen naik dan mengecilkan suaranya untuk kemudian berdendang menyanyikan lagu dengan suara ala kadarnya, sekadar bersuara untuk mendapatkan receh yang sekadarnya pula. Namun, tak dipungkiri bahwa tidak semua pengamen bernayanyi apa adanya, ada juga yang serius sampai urat-urat lehernya mengembang bak pipa-pipa kehidupan yang kadang mengembang dan mengempis, dan dengan perjuangan yang berat akhirnya menjadi salah satu idola negeri ini. Iya, seorang pengamen yang menjadi idola, seperti salah satu nama acara di tv from zero to hero. Namun jumlahnya tak sebanding dengan ratusan bahkan jutaan pengamen jalanan yang tersebar di seluruh jagat Indonesia semesta ini.
Ah, panas sekali di luar sana, ketika segerai rambut berjepit bunga kecil itu tersibak menampakkan seraut wajah seorang gadis, berbaju putih dengan motif kotak warna hitam dan kerutan di kedua ujung lengan pendeknya, menenteng ransel berjalan ke belakang mencari kursi yang tersisa. Penyegar udara semakin kencang berhembus mendinginkan aliran darah yang menguap. Mata-mata adam malu mencuri lirik pada yang demikian, seakan tak pernah puas dengan miliaran bentuk keindahan hawa yang di cipta Tuhan.
Hmm...
Jejak Kabut
Berbicara tentang hutan ini, tak bisa lepas dari membicarakan kabut. Kabut dalam arti yang sesungguhnya, bukan kabut yang sering dilukiskan oleh penyair, bukan kabut yang terlihat di layar kaca, namun kabut yang benar-benar ku alami.
Siang kemarin, hujan telah berpesta di bumi, mendekap hutan dengan kebasahannya dan menyejukkan hidung penghuninya, pun tak lupa mencetak jejak tanah yang menggelayut di alas kaki.
Sore beranjak maghrib, saat segerombolan kabut menyerbu dari atas gunung turun ke lembah secara kolosal, bak film perang china tempo lampau. Perlahan namun pasti, sisi-sisi pandang manusia terhapus dari mata yang kabur, hanya sekerlip lampu-lampu perumahan yang berpijar bagai bintang, dan kulit mulai merapatkan porinya terpeluk kabut yang menggigil. Aku menikmati waktu ini yang tak kan ku dapat di Cileungsi selain polusi yang bisa mematikan ereksi.
Kabut semakin dominan, menjelajah disetiap sudut ruang meninggalkan lembab di tangan. Orang-orang lebih memilih tinggal di dalam rumah, bertemankan kopi panas dan berbatang-batang rokok yang tersulut sambil melihat TV beraneka channel luar negeri dari pada sejenak menyambut kabut.
Kabut tak datang sendiri, melainkan bersama angin yang mengantar....
Keberadaannya hanya mengikut kemana mereka dibawa tanpa protes, dan lepas maghrib hutan telah kembali terlihat mata tersapu oleh jejak kabut yang kan berulang esok hari di sini.
<>Sulewana, di sore hari<>
Siang kemarin, hujan telah berpesta di bumi, mendekap hutan dengan kebasahannya dan menyejukkan hidung penghuninya, pun tak lupa mencetak jejak tanah yang menggelayut di alas kaki.
Sore beranjak maghrib, saat segerombolan kabut menyerbu dari atas gunung turun ke lembah secara kolosal, bak film perang china tempo lampau. Perlahan namun pasti, sisi-sisi pandang manusia terhapus dari mata yang kabur, hanya sekerlip lampu-lampu perumahan yang berpijar bagai bintang, dan kulit mulai merapatkan porinya terpeluk kabut yang menggigil. Aku menikmati waktu ini yang tak kan ku dapat di Cileungsi selain polusi yang bisa mematikan ereksi.
Kabut semakin dominan, menjelajah disetiap sudut ruang meninggalkan lembab di tangan. Orang-orang lebih memilih tinggal di dalam rumah, bertemankan kopi panas dan berbatang-batang rokok yang tersulut sambil melihat TV beraneka channel luar negeri dari pada sejenak menyambut kabut.
Kabut tak datang sendiri, melainkan bersama angin yang mengantar....
Keberadaannya hanya mengikut kemana mereka dibawa tanpa protes, dan lepas maghrib hutan telah kembali terlihat mata tersapu oleh jejak kabut yang kan berulang esok hari di sini.
<>Sulewana, di sore hari<>
Tuesday, April 21, 2009
Suatu pagi di Poso

Suara-suara air masih saja menderu mengisi senyapnya hutan lepas malam, kabut menyerbu menutupi pepohonan bagai asap yang sebentar mampir. Perlahan hilang saat sinar mentari menginterupsi. Dinginpun masih membekas di kulit, terlebih dua gayung air melumuri tubuh atas nama mandi, jauh dari komprehensif.
Jalanan sepi itu mulai nampak seorang per orang melewati jalan menuju tugasnya masing-masing. Berbaju oranye, helm putih dan sepatu boots dengan sebatang rokok di tangan berulang setiap hari yang berganti. Wajah-wajah kusam itu masih saja tekun maraup rupiah di tengah proyek di entah berantah. Tak peduli tengah rimba, tak jadi soal tengah samudera, mereka kan berbondong dengan riang.
Meski berlipat guratan di dahi menanda ada yang mengusik hati. Anak isteri yang tak nampak oleh mata, bilangan usia yang semakin menanjak bertanya akan sampai kapan ini dilalui?
Hmmm....tak bisakah aku tenang bersama-sama keluargaku tanpa kekurangan rupiah?
Menjadi orang pertama yang dilihat isteri ketika bangun di pagi hari
Menjadi teman yang selalu ada disetiap rengekan anak
Menjadi pendengar dari setiap kesah
Hmmm...
Kenyataannya, aku masih disini
Di tengah hutan yang sendiri
(faruq)
Sunday, April 19, 2009
Ctaaarrrr..!!!

Langit yang terang benderang dengan kawanan awan yang berarak bagai domba itu berangsur bergeser, berputar menjadi keabu-abuan, menumpuk menjadi hitam. Udara panas menyengat berubah menjadi angin berhembus menerpa wajah-wajah kusam beriaskan asap cerobong knalpot.
Mendung telah menutupi bumi bagai malam yang belum waktunya. Angin semakin semilir bertiup kencang. Debu, plastik, daun-daun kering beterbangan pasrah kemanapun angin membawa, tak kuasa melawan maupun bertahan. Orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah, kost atau dimanapun asal tidak diluar.
Suara-suara gemuruh mulai berdatangan bagai genderang dari sekelompok pemain drum band. Mengalun mengiringi lagu alam yang ingin menumpahkan seluruh air matanya ke bumi.
Ctarrrrr!!suara petir menyambar, menggoreskan seraut bentuk akar serabut di langit, putih bagai pecut yang diayunkan oleh seorang ksatria penunggang kuda. Disusul penunggang kuda yang lain yang sama-sama mengayunkan cemetinya, berulang dan semakin banyak ksatria yang berdatangan. Suara-suara itu menyambar-nyambar dengan semakin lebatnya air yang membasahi tanah.
<>Jogja, Februari 12, 05<>
Subscribe to:
Posts (Atom)