Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Monday, February 18, 2013
Hujan (Lagi) dan (Lagi-Lagi) Hujan
Penarik Rakit dan Sang Angsa
Wednesday, April 14, 2010
Angsa Lain
Penarik rakit melihat lain angsa mencebur ke danau menebar keindahan, menari dan bernyanyi menghibur alam yang berkabut. Sesekali sang angsa meletupkan lirikan ke arah penarik rakit, seakan bertanya, “masihkan kau memperhatikanku?”
Penarik rakit hanya seorang lugu yang terpaku pada keindahan yang lewat di danau yang menjadi rumahnya. Telah banyak angsa yang dilihatnya di tampungan air ini, meliuk menebar pesona masing-masing. Seakan-akan keindahan tak kan berhenti, selalu ada keindahan yang lain yang datang.
“Inilah keelokan Tuhan.” Gumamnya. Tuhan bisa menciptakan jutaan keindahan yang berbeda pada setiap individu yang dicipta-Nya. Keindahan yang mampu “menyentil” setiap sisi hati manusia, sisi yang Tuhanpun menganjurkan manusia untuk bijak menggunakannya, bahkan menahannya.
Keindahan dan sisi hati manusia bagai dua kutub magnet, yang selalu akan tarik menarik jika berdekatan. Satu hal sangat sulit untuk lepas darinya, sedangkan Tuhan menggariskan bahwa barang siapa mampu menahannya…maka ia menjadi orang yang beruntung. Menahan sesuatu yang semestinya, diperlukan energi yang luar biasa. Energi yang bisa kita sebut sebagai pemahaman, pamahaman akan aturan Tuhan.
Penarik rakit tersadar dari lamunanya, dan ia mendapati sang angsa telah berlalu dari danaunya.
<>Bukaka, 14 April 2010<>
Penarik rakit hanya seorang lugu yang terpaku pada keindahan yang lewat di danau yang menjadi rumahnya. Telah banyak angsa yang dilihatnya di tampungan air ini, meliuk menebar pesona masing-masing. Seakan-akan keindahan tak kan berhenti, selalu ada keindahan yang lain yang datang.
“Inilah keelokan Tuhan.” Gumamnya. Tuhan bisa menciptakan jutaan keindahan yang berbeda pada setiap individu yang dicipta-Nya. Keindahan yang mampu “menyentil” setiap sisi hati manusia, sisi yang Tuhanpun menganjurkan manusia untuk bijak menggunakannya, bahkan menahannya.
Keindahan dan sisi hati manusia bagai dua kutub magnet, yang selalu akan tarik menarik jika berdekatan. Satu hal sangat sulit untuk lepas darinya, sedangkan Tuhan menggariskan bahwa barang siapa mampu menahannya…maka ia menjadi orang yang beruntung. Menahan sesuatu yang semestinya, diperlukan energi yang luar biasa. Energi yang bisa kita sebut sebagai pemahaman, pamahaman akan aturan Tuhan.
Penarik rakit tersadar dari lamunanya, dan ia mendapati sang angsa telah berlalu dari danaunya.
<>Bukaka, 14 April 2010<>
Tuesday, December 8, 2009
"Waktu..."

Seorang pemuda bernama Romi sedang melamun di dalam kamarnya sambil melihat langit malam yang penuh bintang. Dia membayangkan tentang seorang gadis yang bernama Lina, bagaimana perkenalan pertamanya dan betapa membekasnya paras Lina yang cantik. Seakan wajah Lina memenuhi langit diantara bintang-bintang pada malam itu.
(mulai adegan flash back ketika Romi pertama kali bertemu Lina)
Mereka berkenalan di bawah pohon randu di sebuah taman kota. Dengan basa-basi yang dibuat-buat akhirnya mereka berkenalan dan ngobrol kesana-kemari. Romi memandang wajah Lina dan tak mau melepaskan pandangannya, hingga suatu saat mata Lina tidak melihat ke arah Romi tapi melihat seseorang yang berada di bangku sebelahnya yang ada di belakang Romi. Romi heran melihat sikap Lina, dan menoleh ke belakang siapa gerangan yang diperhatikan oleh Lina. Seorang pria memakai jas dan celana panjang biru tua dipadu dengan kemeja biru muda dan berkacamata. Dengan buku, tepatnya sebuah komik di tangan dan sesekali sang pria tersenyum kecil seakan komik itu menceritakan sesuatu yang menggelikan. “Sialan! kau duduk bersamaku disini, tapi kau perhatikan orang lain,”umpat Romi dalam hati.
“Kau kenal orang itu?” Tanya Romi pada Lina.
“Ya, aku mengenalnya!” jawabnya yakin.
“O ya, siapa namanya? Kenal dimana? Berapa lama kenalnya? Sering main ke tempatmu?” pertanyaan Romi mengalir bertubi-tubi seperti berondongan brondong (pop corn).
“Aku kenal belum lama, baru beberapa saat tadi.”
“Baru tadi? Bukankah kau ada bersamaku beberapa menit lalu?”, kataku.
“Coba kau lihat lagi pria itu, apa kau tak mengenalnya?”
Romi melihat lagi sosok manusia itu, tak mengenalnya, tapi Romi merasakan sesuatu tapi tak tahu.
“Tidak!” jawabnya.
“Massa? Coba kau lihat lagi.”
“Nggak! nggak tahu ya nggak tahu!” kata Romi agak ketus.
“Itu kamu!! Dirimu!! Enam tahun dari sekarang. Kau punya pekerjaan yang mapan, sehingga penampilanmu pun semakin matang, tidak kumal dan suka menggombal seperti sekarang, kau pun menumbuhkan rambut di bawah hidung itu agar dikira dewasa, padahal juga belum begitu. Masih ada sifat kekanak-kanakan dalam dirimu. Itu terlihat dari masih sukanya kau membaca komik dan tersenyum sendiri seperti itu. Dan itulah mengapa kau berkacamata. Menghabiskan sepuluh komik setiap harinya dengan lima judul yang berbeda masih ditambah kegemaranmu main soliter di depan computer, belum lagi acara televis yang tak pernah terlewatkan khususnya acara dangdutan, telah cukup untuk membuatmu bermata ganda. Cuman matamu yang baru itu tidak ada keranjangnya, beda dengan mata yang asli yang penuh dengan keranjang.”
“Hah!!’ Romi seakan tak percaya. “Emangnya kamu peramal, klenik, cenayang, dukun. Kok bisa-bisanya mengatakan orang lain seperti aku.”
“Itu memang kamu. Orang lain bisa melihatnya, bisa berinteraksi dengannya. Tapi kamu tidak akan bisa. Yang jelas kamu tampak lebih menarik kalau seperti itu.” Katanya sambil tersenyum malu.
“Sialan! Pikir Romi. “lalu, apa maksudnya?”
“Maksudnya, aku akan menemuimu waktu kau sudah seperti itu!” kata Lina sambil ngeloyor pergi.
“Hah!! Terus kita?”
“Kita hanya sikap-sikap monyet, jadi apa yang kita lakukan hampir-hampir menyerupai monyet, suka bercanda dengan mimpi yang mengangkasa.”
“Dasar matre sialan. Iya kalo enam tahun lagi aku masih sendiri, kalo aku sudah berpoligami, apa kau akan menemuiku untuk menjadi selir yang ke sekian?” teriakku padanya.
Tapi sepertinya ia tidak mendengarkan, karena sosoknya sudah tak kelihatan. Romi masih saja terus mengumpat dengan kata-kata yang bervariasi. Hingga tiba-tiba banyak orang yang mengerumuni Romi, teman kost dan beberapa tetangga.
“Heh, ngapain kau teriak malam-malam begini? Ada yang merasukimu ya?” kata teman Romi.
Romi tersadar dan akhirnya keesokan harinya ia menemui Lina di alamat yang pernah diberikan Lina padanya. Tapi penghuni rumah bilang bahwa tidak ada yang bernama Lina. Romi semakin bingung, akhirnya pasrah setelah tidak menemukan keberadaan Lina, gadis yang pernah berkenalan dengannya.
(enam tahun kemudian)
Romi duduk di sebuah kursi taman kota dan membaca komik kesukaannya, Kungfu Komang. Ia melihat sekeliling taman, dilihatnya sepasang muda-mudi di depannya saling ngobrol. Tiba-tiba si cewek meninggalkan si cowok dan menghampiri Romi.
“Hai Romi!” sapa Lina.
“Hah!! Lina?”, kata Romi spontan seakan tak percaya.
[]
Thursday, December 3, 2009
HUJAN AIR
“Kesempatan telah dilalui....pun saat hujan kembali mereda, dan dunia nampak lebih cerah dari biasanya...”
Berhelai rambut yang tertiup menggores pipi putih, mata oriental memandang kejauhan berharap sesuatu kan datang. Udara semakin berisik saat awan gelap mulai mengayom, dingin menjadi hal yang lebih dulu ada mendekap bahu yang terbuka sebelah. Bibir tipis mulai tergigit mengerling mata ke segala arah, tersentak suara petir yang membahana.....yang dinanti belum juga tiba.
Kegelisahan merayap ke sekujur tubuh, dan kerutan halus mulai nampak di kening.....”cupp!” setetes hujan menciumnya diikuti rentetan berikutnya, semakin beringas oleh gairah yang lama terendap. Sang mata oriental tersenyum....memejamkan mata, menengadahkan kedua tangan dan wajah dan berputar riang diiringi tawa-tawa kecil.
“Ah, kenapa kau lama sekali?” tanyanya tanpa meninggalkan lesung pipit yang tersungging.
“Maafkan aku...” Jawabnya
“Kau pikir aku senang ditemani awan yang selalu muram dan petir yang tak pernah bersuara pelan? Aku telah menantimu berminggu-minggu sampai entah kapan terakhir kali kita bicara.”
“Maaf,...”
“Ah, lupakan maafmu....Apa ceritamu hari ini?”
“Tak ada cerita.”
“Kau masih saja malu bicara, padahal kita sudah puluhan tahun kenal.”
“Kau masih kecil waktu itu...”
“Dan sekarang.....???” tanya sang mata oriental yang tak lagi berputar-putar.
“Hmm....”
“Eh, kau terasa lebih hangat hari ini. Ada yang berbeda?”
“Tidak, masih seperti biasanya. Air bersih, air setengah bersih, air setengah kotor dan air kotor semua bercampur di diriku. Aku tak bisa memilihnya, tak seperti kamu yang diberi kesempatan untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Tapi, kau tak pernah memberikan sisi burukmu pada alam ini, kecuali dampak dari kelebihan berat badanmu yang bisa menyebabkan banjir. Kau tak pernah menumpahkan dirimu dalam bentuk comberan, hampir semua manusia bisa menerimamu, termasuk diriku.”
“Ah,....”
“Kau juga selalu lurus, tak pernah berbelak-belok dalam bersikap seperti kebanyakan manusia, yang ada hanya kadang kau condong kesana atau kesini, tapi arahmu selalu lurus.”
“Hmm..kau masih kecil waktu itu...”
“Lalu..?”
“Lalu...aku musti mengakhiri obrolan kita kalau kau tak kenakan payungmu.”
“Kau ingin aku menghindarimu?”
“Aku ingin agar aku tak terlalu dalam menyentuhmu. Lihat... tak ada rongga diantara kulit dan bajumu, sekarang telah menyatu olehku. Air yang terserap oleh kain yang kau kenakan telah menampakkan keindahanmu, keindahan yang sebagian besar orang berani membayar berapapun.”
“Kau tidak...?”
“Tak ada lagi yang bisa ku tawarkan, karena aku adalah penyusun sebagian besar dirimu...”
[Dec 02, 2009]
Berhelai rambut yang tertiup menggores pipi putih, mata oriental memandang kejauhan berharap sesuatu kan datang. Udara semakin berisik saat awan gelap mulai mengayom, dingin menjadi hal yang lebih dulu ada mendekap bahu yang terbuka sebelah. Bibir tipis mulai tergigit mengerling mata ke segala arah, tersentak suara petir yang membahana.....yang dinanti belum juga tiba.
Kegelisahan merayap ke sekujur tubuh, dan kerutan halus mulai nampak di kening.....”cupp!” setetes hujan menciumnya diikuti rentetan berikutnya, semakin beringas oleh gairah yang lama terendap. Sang mata oriental tersenyum....memejamkan mata, menengadahkan kedua tangan dan wajah dan berputar riang diiringi tawa-tawa kecil.
“Ah, kenapa kau lama sekali?” tanyanya tanpa meninggalkan lesung pipit yang tersungging.
“Maafkan aku...” Jawabnya
“Kau pikir aku senang ditemani awan yang selalu muram dan petir yang tak pernah bersuara pelan? Aku telah menantimu berminggu-minggu sampai entah kapan terakhir kali kita bicara.”
“Maaf,...”
“Ah, lupakan maafmu....Apa ceritamu hari ini?”
“Tak ada cerita.”
“Kau masih saja malu bicara, padahal kita sudah puluhan tahun kenal.”
“Kau masih kecil waktu itu...”
“Dan sekarang.....???” tanya sang mata oriental yang tak lagi berputar-putar.
“Hmm....”
“Eh, kau terasa lebih hangat hari ini. Ada yang berbeda?”
“Tidak, masih seperti biasanya. Air bersih, air setengah bersih, air setengah kotor dan air kotor semua bercampur di diriku. Aku tak bisa memilihnya, tak seperti kamu yang diberi kesempatan untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Tapi, kau tak pernah memberikan sisi burukmu pada alam ini, kecuali dampak dari kelebihan berat badanmu yang bisa menyebabkan banjir. Kau tak pernah menumpahkan dirimu dalam bentuk comberan, hampir semua manusia bisa menerimamu, termasuk diriku.”
“Ah,....”
“Kau juga selalu lurus, tak pernah berbelak-belok dalam bersikap seperti kebanyakan manusia, yang ada hanya kadang kau condong kesana atau kesini, tapi arahmu selalu lurus.”
“Hmm..kau masih kecil waktu itu...”
“Lalu..?”
“Lalu...aku musti mengakhiri obrolan kita kalau kau tak kenakan payungmu.”
“Kau ingin aku menghindarimu?”
“Aku ingin agar aku tak terlalu dalam menyentuhmu. Lihat... tak ada rongga diantara kulit dan bajumu, sekarang telah menyatu olehku. Air yang terserap oleh kain yang kau kenakan telah menampakkan keindahanmu, keindahan yang sebagian besar orang berani membayar berapapun.”
“Kau tidak...?”
“Tak ada lagi yang bisa ku tawarkan, karena aku adalah penyusun sebagian besar dirimu...”
[Dec 02, 2009]
Thursday, June 11, 2009
Ningsih Dalam Sepotong Gethuk (bag. 03)
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Waktu ku buka sebungkus gethuk dan menawarkanya padamu. Kau mengambil sepotong dan memakannya. Aku memperhatikanmu, kau memang cantik, Sih. Dengan baju putih lengan panjang dan rok panjang berwarna biru, benar-benar membuatmu anggun. Tak ada berbulir-bulir padi di sawah ini pun yang mampu mengenyangkan hatiku selain melihatmu. Kerudungmu masih terlilit di pundak dan Al Qur’an itu pun masih tergenggam erat di tangan kirimu. Seperti biasa, setiap sore kau menuju ke musholla untuk mengaji mempelajari kitab suci dan setelah itu perlahan derajatmu ditingkatkan.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Tak ada keraguan sedikit pun di diriku dan otakku yang dulu pernah berselisih. Tak sehelai rumput di sawah dan tak ada setangkai padi pun yang menegakkan dirinya waktu itu. Waktu hatiku memutuskan untuk menempatkanmu lebih dari gadis-gadis yang ada, yang pernah ku kenal. Tak seorang gadis pun yang mengisi ruang-ruang hatiku sebanyak dan setenteram dirimu, Sih. Kau masih memakan sepotong gethuk itu, Sih, yang seakan terlalu banyak sehingga tak habis-habis, waktu hatiku mengucapkannya. Kau menghentikan makanmu, sepotong gethuk sisa masih ada di tanganmu, kau memperhatikanku tajam.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Waktu kau ku tanya mengapa kau hentikan makanmu. Dengan senyum tipis, bahkan sangat tipis dan tertahan, kau berucap.
“Gethuk ini terlalu manis untuk ku telan, aku takut mencernanya. Aku takut lambungku tak mampu menyerap dan hatiku tak mampu merasakan rasa sayang gethuk ini.”
Aku mengambil sepotong gethuk dalam bungkusan dan memakannya, perlahan ku kunyah dan ku telan. Mengapa...mengapa...mengapa gethuk ini terasa pahit. Tidak seperti biasanya yang selalu enak dimakan.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Aku pun masih bertanya, mengapa aku tak merasakan apa-apa? Merasakan apa yang kau rasakan waktu itu, Sih. Aku hanya merasakan gethuk itu terasa pahit tidak seperti biasanya. Dalam ketidakmampuanku merasakan rasa itu, kau meletakkan sepotong gethuk sisamu, memegang erat tanganku menatap tajam mataku. Tapi aku tak mampu memandang mata teduhmu itu, Sih, dan kau berlalu menyusuri pematang dan semakin jauh seiring suara adzan magrib yang berkumandang mengangkasa bersama senja merah di ufuk barat.
“......Khaya’alas sholaah, Khaya’alal falaakh.....” yah, ternyata Tuhan memang lebih tahu bagaimana memperlakukanku!!
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Tak ada keraguan sedikit pun di diriku dan otakku yang dulu pernah berselisih. Tak sehelai rumput di sawah dan tak ada setangkai padi pun yang menegakkan dirinya waktu itu. Waktu hatiku memutuskan untuk menempatkanmu lebih dari gadis-gadis yang ada, yang pernah ku kenal. Tak seorang gadis pun yang mengisi ruang-ruang hatiku sebanyak dan setenteram dirimu, Sih. Kau masih memakan sepotong gethuk itu, Sih, yang seakan terlalu banyak sehingga tak habis-habis, waktu hatiku mengucapkannya. Kau menghentikan makanmu, sepotong gethuk sisa masih ada di tanganmu, kau memperhatikanku tajam.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Waktu kau ku tanya mengapa kau hentikan makanmu. Dengan senyum tipis, bahkan sangat tipis dan tertahan, kau berucap.
“Gethuk ini terlalu manis untuk ku telan, aku takut mencernanya. Aku takut lambungku tak mampu menyerap dan hatiku tak mampu merasakan rasa sayang gethuk ini.”
Aku mengambil sepotong gethuk dalam bungkusan dan memakannya, perlahan ku kunyah dan ku telan. Mengapa...mengapa...mengapa gethuk ini terasa pahit. Tidak seperti biasanya yang selalu enak dimakan.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Aku pun masih bertanya, mengapa aku tak merasakan apa-apa? Merasakan apa yang kau rasakan waktu itu, Sih. Aku hanya merasakan gethuk itu terasa pahit tidak seperti biasanya. Dalam ketidakmampuanku merasakan rasa itu, kau meletakkan sepotong gethuk sisamu, memegang erat tanganku menatap tajam mataku. Tapi aku tak mampu memandang mata teduhmu itu, Sih, dan kau berlalu menyusuri pematang dan semakin jauh seiring suara adzan magrib yang berkumandang mengangkasa bersama senja merah di ufuk barat.
“......Khaya’alas sholaah, Khaya’alal falaakh.....” yah, ternyata Tuhan memang lebih tahu bagaimana memperlakukanku!!
Ningsih Dalam Sepotong Gethuk (bag. 02)
Aku tak merasakan apa-apa,Sih. Hanya perasaan senang dan ingin segera ketemu dengan kamu saat ku pertama kali main ke rumahmu. Pagar dengan tinggi sepinggang mengitari sebuah rumah bercat hijau dengan hamparan taman tersusun rapi. Bouganville aneka warna di sebelah kiri berpadu dengan melati yang tampak baru kuncup menebarkan pesona alam berpadu dalam keindahan. Ada juga sebuah pohon mangga besar berhias anggrek di sepanjang batang. Lalu dirimu muncul dari pintu bertahtahkan ukiran jawa coba menyambutku. Aku merasa senang Sih, melihatmu segar dengan rambut masih basah sehabis mandi menebar senyum ke arahku. Sunggguh, ada yang mendesir di dada, Sih. Tapi aku pura-pura tidak tahu apa itu, yaah, kemunafikan lelaki terhadap kecantikan perempuan yang memunculkan perasaan-perasaan suka. Kau mempersilakanku duduk di kursi taman yang terbuat dari bamboo. Kita ngobrol, becanda dengan banyolanku yang sengaja kurancang untuk membuatmu tertawa. Hingga tak jarang saking kerasnya tawamu, setiap orang yang lewat selalu menoleh ke arah kita, tak terkecuali orang tuamu yang sesekali melongok dari dalam rumah.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Saat pertemuan kita berulang dan semakin sering dan kau pun tak enggan menjalaninya. Aku datang ke rumahmu setiap kali ku ingin melihat wajah cantikmu, dan sayangnya setiap detik ku ingin melihatmu. Maka seharusnya setiap detik pula aku harus ke rumahmu, tapi itu tidak mungkin. Aku siapa dan kau siapa. Kita juga bukan suami istri, setidaknya belum. Meski itu cita-citaku yang ingin ku usahakan. Aku mulai berani mengajakmu keluar, sekedar jalan-jalan masuk pertokoan atau pergi melihat tontonan. Karena di desa kita sering ada layar tancep dengan film-film lokal tempo dulu. Tapi bukan itu yang terpenting, karena selalu ada di dekatmu, ngobrol denganmu, dan tentu saja menikmati wajah cantikmu adalah lebih dari segalanya. Kadang kita pulang larut, dan ayahmu sudah berdiri tegak di depan pintu membuatku bergeming. Dalam anganku selalu ku pikirkan ayahmu berdiri dengan seragam besi memanggul sebuah gada, seperti senjata bima dengan tutup kepala bertanduk dua, bersiap-siap melumat diriku karena membawamu. Tapi itu tidak terjadi, ayahmu hanya diam saja dengan tatapan mata tajam dan itu cukup membuatku sadar untuk lebih berhati-hati dan tahu diri.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Melihatmu setiap pagi pergi sekolah. Sekolah yang tidak perlu lagi berseragam, kalau orang-orang menyebutnya sekolah kuliah. Yaah, aku memang tidak pernah merasakannya, meski itu bukan keinginanku. Ingin ku gantungkan cita-citaku setinggi langit, namun langit itu bertingkat-tingkat dan aku hanya mampu meraih langit pertama dan kau dengan orang-orang setingkatmu terus melaju menggapai langit-langit lain yang lebih tinggi. Aku tidak menyesal, Sih, karena aku yakin Tuhanku tahu bagaimana memperlakukanku. Aku bersyukur mengenalmu, jadi aku tahu sedikit bagaimana orang yang sedang sekolah kuliah. Dengan tas pinggang itu kau berjalan menuju ke sekolahmu melewati hamparan sawah yang padanya ku setiap hari bergumul, yaah petani dan sawahnya. Kita memang berbeda dari segi ijasah-ijasahan, tapi kupikir kita sama dalam berandai dan berangan. Aku berangan memilikimu, dan kau berandai... ...ah, aku tak tahu apa yang kau andaikan. Seandainya saja sama.
”Pung, Banguuuuun!!!!!!!” teriakku pada otakku. “Hidup ini tidak hanya berandai dan berangan, ada yang harus dikerjakan. Baguuuun, jalan, dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan!!”
“Biarin!! Lha wong mikir tentang Ningsih kok ndak boleh!” jawab otakku tak mau kalah.
Saking serunya diriku dan otakku berselisih, sampai-sampai tak bisa dilerai. Hingga suara itu memisahkannya.
“Pung, lagi ngapain, kok bengong? Jangan kebanyakan ngalamun, ntar kemasukan setan.” Kata suara itu.
Aku memang tak asing dengan suara itu, siapa lagi kalau bukan suara Ningsih yang terkasih. Ternyata ia tadi memperhatikanku. Dalam hati aku berucap, “kalau setannya kamu aku nggak keberatan.”
“E...e...enggak kok, Cuma lagi mikir tentang...” aku kebingungan menjawab, lalu kataku sekenanya, “...lagi mikir tentang gethuk!
Kau agak bingung mendengar jawabanku, Sih. Kau bertanya ada apa dengan gethuk? Dan aku pun menjawab bahwa gethuk itu enak, meski makanan lokal, kalau dibuat beraneka rupa, maka menjadi makanan yang istimewa. Kau pun mengiyakannya, meski kau mungkin tak menyadari jika pertemuan kita pun bermula dari gethuk. Lalu aku mengajakmu makan gethuk seperti yang dulu pernah kita beli di tukang gethuk itu esok sore di gubuk pematang sawah. Kau tak keberatan dan ku tunggu hari itu.
-->
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Saat pertemuan kita berulang dan semakin sering dan kau pun tak enggan menjalaninya. Aku datang ke rumahmu setiap kali ku ingin melihat wajah cantikmu, dan sayangnya setiap detik ku ingin melihatmu. Maka seharusnya setiap detik pula aku harus ke rumahmu, tapi itu tidak mungkin. Aku siapa dan kau siapa. Kita juga bukan suami istri, setidaknya belum. Meski itu cita-citaku yang ingin ku usahakan. Aku mulai berani mengajakmu keluar, sekedar jalan-jalan masuk pertokoan atau pergi melihat tontonan. Karena di desa kita sering ada layar tancep dengan film-film lokal tempo dulu. Tapi bukan itu yang terpenting, karena selalu ada di dekatmu, ngobrol denganmu, dan tentu saja menikmati wajah cantikmu adalah lebih dari segalanya. Kadang kita pulang larut, dan ayahmu sudah berdiri tegak di depan pintu membuatku bergeming. Dalam anganku selalu ku pikirkan ayahmu berdiri dengan seragam besi memanggul sebuah gada, seperti senjata bima dengan tutup kepala bertanduk dua, bersiap-siap melumat diriku karena membawamu. Tapi itu tidak terjadi, ayahmu hanya diam saja dengan tatapan mata tajam dan itu cukup membuatku sadar untuk lebih berhati-hati dan tahu diri.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Melihatmu setiap pagi pergi sekolah. Sekolah yang tidak perlu lagi berseragam, kalau orang-orang menyebutnya sekolah kuliah. Yaah, aku memang tidak pernah merasakannya, meski itu bukan keinginanku. Ingin ku gantungkan cita-citaku setinggi langit, namun langit itu bertingkat-tingkat dan aku hanya mampu meraih langit pertama dan kau dengan orang-orang setingkatmu terus melaju menggapai langit-langit lain yang lebih tinggi. Aku tidak menyesal, Sih, karena aku yakin Tuhanku tahu bagaimana memperlakukanku. Aku bersyukur mengenalmu, jadi aku tahu sedikit bagaimana orang yang sedang sekolah kuliah. Dengan tas pinggang itu kau berjalan menuju ke sekolahmu melewati hamparan sawah yang padanya ku setiap hari bergumul, yaah petani dan sawahnya. Kita memang berbeda dari segi ijasah-ijasahan, tapi kupikir kita sama dalam berandai dan berangan. Aku berangan memilikimu, dan kau berandai... ...ah, aku tak tahu apa yang kau andaikan. Seandainya saja sama.
”Pung, Banguuuuun!!!!!!!” teriakku pada otakku. “Hidup ini tidak hanya berandai dan berangan, ada yang harus dikerjakan. Baguuuun, jalan, dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan!!”
“Biarin!! Lha wong mikir tentang Ningsih kok ndak boleh!” jawab otakku tak mau kalah.
Saking serunya diriku dan otakku berselisih, sampai-sampai tak bisa dilerai. Hingga suara itu memisahkannya.
“Pung, lagi ngapain, kok bengong? Jangan kebanyakan ngalamun, ntar kemasukan setan.” Kata suara itu.
Aku memang tak asing dengan suara itu, siapa lagi kalau bukan suara Ningsih yang terkasih. Ternyata ia tadi memperhatikanku. Dalam hati aku berucap, “kalau setannya kamu aku nggak keberatan.”
“E...e...enggak kok, Cuma lagi mikir tentang...” aku kebingungan menjawab, lalu kataku sekenanya, “...lagi mikir tentang gethuk!
Kau agak bingung mendengar jawabanku, Sih. Kau bertanya ada apa dengan gethuk? Dan aku pun menjawab bahwa gethuk itu enak, meski makanan lokal, kalau dibuat beraneka rupa, maka menjadi makanan yang istimewa. Kau pun mengiyakannya, meski kau mungkin tak menyadari jika pertemuan kita pun bermula dari gethuk. Lalu aku mengajakmu makan gethuk seperti yang dulu pernah kita beli di tukang gethuk itu esok sore di gubuk pematang sawah. Kau tak keberatan dan ku tunggu hari itu.
-->
Ningsih Dalam Sepotong Gethuk (bag. 01)
Aku tak merasakan apa-apa waktu itu, Sih. Hanya mengalir begitu saja, seperti biasa. Mengingatkan pertemuan kita pun terjadi dengan begitu saja. Kita tak merencanakannya sebelumnya. Kau tiba-tiba muncul di depan gerobak gethuk itu untuk membeli penganan yang terbuat dari singkong, kalau orang jawa menyebutnya pohong. Waktu itu pun aku membelinya, karena gethuk adalah makanan local yang dikenalkan keluargaku padaku. Yaah itung-itung untuk membantu pemerintah menggalakkan cinta akan produk local. Sebab, hamburger, Dunkin Donat masih terlalu tinggi untuk perekonomianku, selain itu, bungkusnya juga terlalu mewah untuk ku pajang di rumah. Kau kan tau Sih, bapak dan simbokku pekerjaannya hanya mengaduk-aduk tanah, menanaminya, dan kalau beruntung akan menuai hasilnya. Itupun pas memenuhi kebutuhan orang serumah.
Aku tak beranjak dari gerobak gethuk, terlalu sayang meninggalkan wajah yang menentramkan itu, ya..wajahmu Sih, serasa menentramkanku. Ah, penyakitku mulai kambuh saat melihat gadis cantik. Kau dengan penampilan sederhanamu, kaos putih bergambar mickey mouse di tengah dipadu dengan celana pendek selutut dan rambut sebahu yang diikat, benar-benar menampilkanmu apa adanya. Apa adanya yang istimewa, tentu saja tak terlepas dari wajah cantikmu. Putih, bersih dengan alis memanjang datar hampir menyatu seakan menegaskan tatapan matamu yang tajam. Kau pun hanya menatap malu penuh selidik saat kuperhatikan terus dirimu. Mungkin kau beranggapan aku terlalu lancang dengan menatapmu. Hingga akhirnya sebungkus klepon dan gethuk yang disodorkan tukang gethuk memecah lamunanku akanmu. Kau berlalu dan berjalan menjauh.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Saat ku kejar dan ku hentikan dirimu. Kau kaget waktu itu, terlihat dari ekspresi wajahmu menunjukkan rasa tidak suka. Dengan sopan ku sapa kamu dan ku utarakan maksudku ingin berkenalan. Kau ragu, dengan masih membawa bungkusan gethuk, kau amati aku dari ujung rambut sampai ujung kaki, kalau-kalau ada yang kurang. Tapi kau tak menemukanya sebagai satu kesatuan tubuh. Mungkin yang kurang dari diriku adalah uang, rupiah terakhirku telah berpindah ke tukang gethuk. Ku ulangi lagi untuk mengajakmu kenalan, ku sebutkan namaku sambil menjulurkan tangan. “Ipung!!”, kataku tegas, seakan namaku adalah nama yang keren. Kau masih ragu, dengan perlahan kau juga mengangkat tanganmu. Kulihat selonjor tangan yang bersih dengan bulu-bulu tipis mengitarinya tampak manis. Ah, lagi-lagi penyakitku kambuh.
“Ningsih!”, jawabmu lirih. Ku jabat erat tanganmu seakan tak ingin ku lepaskan, tapi kau memberi isyarat dengan matamu. Lalu ku coba mengajakmu ngobrol sambil jalan menanyakan segala sesuatu tentang dirimu. Yang terpenting adalah dimana rumahmu, agar aku bisa singgah menyusun angan dan perasaan. Kau agak tertutup saat kita ngobrol, hanya kata-kata pendek yang keluar dari mulutmu setiap kali ku bertanya. Malam itu memang tak berbulan hanya kedipan-kedipan bintang yang bersemayam di langit malam dan singah ke bumi bersama kedua matamu. Akhirnya kau membelok di persimpangan depan, karena rumahmu nomor dua sebelah kanan setelah belokan. Sambil melihatmu pergi, dengan lirih kuucapkan terima kasih atas obrolannya dan ku berjanji untuk main ke rumah keesokan harinya.
-->
Aku tak beranjak dari gerobak gethuk, terlalu sayang meninggalkan wajah yang menentramkan itu, ya..wajahmu Sih, serasa menentramkanku. Ah, penyakitku mulai kambuh saat melihat gadis cantik. Kau dengan penampilan sederhanamu, kaos putih bergambar mickey mouse di tengah dipadu dengan celana pendek selutut dan rambut sebahu yang diikat, benar-benar menampilkanmu apa adanya. Apa adanya yang istimewa, tentu saja tak terlepas dari wajah cantikmu. Putih, bersih dengan alis memanjang datar hampir menyatu seakan menegaskan tatapan matamu yang tajam. Kau pun hanya menatap malu penuh selidik saat kuperhatikan terus dirimu. Mungkin kau beranggapan aku terlalu lancang dengan menatapmu. Hingga akhirnya sebungkus klepon dan gethuk yang disodorkan tukang gethuk memecah lamunanku akanmu. Kau berlalu dan berjalan menjauh.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Saat ku kejar dan ku hentikan dirimu. Kau kaget waktu itu, terlihat dari ekspresi wajahmu menunjukkan rasa tidak suka. Dengan sopan ku sapa kamu dan ku utarakan maksudku ingin berkenalan. Kau ragu, dengan masih membawa bungkusan gethuk, kau amati aku dari ujung rambut sampai ujung kaki, kalau-kalau ada yang kurang. Tapi kau tak menemukanya sebagai satu kesatuan tubuh. Mungkin yang kurang dari diriku adalah uang, rupiah terakhirku telah berpindah ke tukang gethuk. Ku ulangi lagi untuk mengajakmu kenalan, ku sebutkan namaku sambil menjulurkan tangan. “Ipung!!”, kataku tegas, seakan namaku adalah nama yang keren. Kau masih ragu, dengan perlahan kau juga mengangkat tanganmu. Kulihat selonjor tangan yang bersih dengan bulu-bulu tipis mengitarinya tampak manis. Ah, lagi-lagi penyakitku kambuh.
“Ningsih!”, jawabmu lirih. Ku jabat erat tanganmu seakan tak ingin ku lepaskan, tapi kau memberi isyarat dengan matamu. Lalu ku coba mengajakmu ngobrol sambil jalan menanyakan segala sesuatu tentang dirimu. Yang terpenting adalah dimana rumahmu, agar aku bisa singgah menyusun angan dan perasaan. Kau agak tertutup saat kita ngobrol, hanya kata-kata pendek yang keluar dari mulutmu setiap kali ku bertanya. Malam itu memang tak berbulan hanya kedipan-kedipan bintang yang bersemayam di langit malam dan singah ke bumi bersama kedua matamu. Akhirnya kau membelok di persimpangan depan, karena rumahmu nomor dua sebelah kanan setelah belokan. Sambil melihatmu pergi, dengan lirih kuucapkan terima kasih atas obrolannya dan ku berjanji untuk main ke rumah keesokan harinya.
-->
Tuesday, May 19, 2009
DALAM RENTANG (sebuah naskah)
Menghampar tidak begitu luas satu tanah yang tertutup hijau rumput. Dedaunan kering masih saja berguguran, berayun di udara dan hinggap di helai rambut seorang gadis yang menunggu. Angin-angin masih asyik bersendau gurau dengan rimbunan pohon menari-nari disela-sela ranting mengusir sisa hangat siang tadi.
Sang gadis memandang segelintir yang lewat, meski tak satupun yang diharap terlihat, sejenak seseorang menyandarkan pinggangnya di sandaran kursi membelakangi sang gadis, sambil kedua tangannya memegang sandaran, sang gadis melirik....
Maya : ”Kita pernah mengalami ini..”
Ipung : ”Apa, seseorang menunggu dan yang lainnya terlambat?”
Maya : ”Bedanya, Aku dulu yang terlambat, dan sekarang Aku yang menunggu.”
Ipung : ”Ku harap Kau tak lebih lama dariku.”
Maya : ”Lama atau sebentar, toh akhirnya kita bertemu...rentang waktu yang membawa kita pada hari ini.”
Ipung : ”Aku hanya mengikuti alur terkecil yang ada dalam benakku, yang sempat tersekat untuk beberapa saat, beberapa saat yang tidak bisa dibilang sekejap. Hingga akhirnya terbuka, dan memberi tanya, ada apa?”
(diam)
”Kau merindukanku?”
Maya : ”Hahaha.....Kau tak pernah berubah, selalu memikirkan fantasi.”
Ipung : ”Fantasi-fantasi itu adalah sebuah potensi, saat mereka menemukan perbedaan elevasi, maka fantasi-fantasi itu akan bergerak dan menghasilkan energi yang dahsyat.......kenyataan!”
Maya : ”Kau terlalu menghayati The Secret?”
Ipung : ”Aku tak sepenuhnya percaya dengan itu, saat mereka mengabaikan campur tangan Tuhan. Karena Tuhan selalu punya kendali terhadap pikiran kita, siapapun, dimanapun dan kapanpun termasuk kita dan hari ini.”
(angin seketika bersiul riuh mengadu ranting, yang tua patah dan terhempas ke tanah)
(keduanya diam)
Ipung : ”Jadi.....kau merindukanku?”
Maya : ”Kau pun?”
Ipung : ”Hmmm......mengapa jawaban selalu punya kecepatan rendah, saat pertanyaan melesat?”
Maya : ”Sebab, pertanyaan hati berbicara tentang dua sisi yang tak selalu mudah dihayati.”
Ipung : ”Kau takut negasi?”
Maya : ”Lebih indah jika seirama, mengalun membentuk nada mencipta rasa tanpa interupsi.”
Ipung : ”Aku pernah membicarakannya dengan seseorang, dan akhirnya Aku menemui kenyataan, tak ingatkah?”
Maya : ”Jangan selalu menganggap berulangnya waktu membawa kesamaan isi. Sungai tak selalu membawa sampah, ada juga biota indah disana.”
Ipung : ”Kita tak selalu tahu bagaimana mendatang? Empirisisme adalah salah satu dasar yang bisa dipakai untuk memprediksi.”
Maya : ”Mengabaikan x-ternal factor?”
(seekor burung hinggap di tanah, mengambil sepotong ranting dengan mulutnya dan terbang lagi, yang lain riang di dahan mengisi telinga yang menyimak)
Ipung : ”Jadi?”
Maya : ”Ya...!”
Ipung : ”Hmmm...., (diam) Bagaimana dengannya?”
Maya : ”Masing-masing mempunyai ingin, menyatu menjadi harap dan mengisi setiap waktu...”
Ipung : ”Aku mendengar....”
Maya : ”Dia datang dan aku menyambut, begitu sebaliknya tanpa melepaskan hati...”
Ipung : ”Lalu...?”
Maya : ”Bunga mawar terbaik yang bisa ditemukannya pernah menempel di pintu kamarku saat Aku mengulang tahun. Hingga teman-teman kost ku yang lain berhamburan keluar karena harumnya.”
Ipung : ”Hmmm......berlebihan!”
Maya : ”Hihihih....aku pernah melihat wajah itu.” (sambil melihat ekspresi wajah Ipung)
Ipung : ”Wajah apa?”
Maya : ”Wajahmu yang seperti itu..., aku masih mengingatnya....wajah seperti itu muncul saat ada coklat di meja kelasku. Waktu itu seketika langit tertutup awan hitam, geledek menyambar-nyambar, angin meliuk-liuk membawa serpihan kertas yang berserakan di dalam kelas....”
Ipung : ”Hiperbola...!!”
Maya : ”Hihihi...padahal, itu kan coklat dari Dessy teman semejaku yang ibunya punya usaha aneka makanan yang terbuat dari coklat. Lagian kita kan bukan apa-apa waktu itu, pacar juga nggak.”
Ipung : ”Hmm...”
Maya : ”Dulu...Kau cukup misterius bagiku, satu orang yang menatapku dari sekian banyak wajah lelaki putih abu-abu. Entah mengapa, saat melihatmu ada semacam harapku di matamu, meskipun kata-kata mu untuk tak sebanyak pandanganmu padaku.”
Ipung : ”Aku hanya mengikuti naluriku.”
Maya : ”Naluri itu juga potensi, ia harus menemukan jalannya untuk bisa menghasilkan energi yang dahsyat.....kenyataan!”
Ipung : ”Itu kata-kataku”
Maya : ”Kau referensiku”
Ipung : ”Hmm....”
Maya : ”Hmm??, tak adakah kata-kata untukku selain hmm....?”
Ipung : ”Itu ekspresi, jangan mendebatnya.”
Maya : ”Kau masih sama, sama misteriusnya seperti dulu..”
Ipung : ”Kecuali perasaanku...”
Maya : ”Perasaan??”
Ipung : ”Padamu!”
(theng!!)
Maya : ”Ah, sama saja, masih misteri.”
Ipung : ”Setiap orang membawa misterinya masing-masing.”
Maya : ”I am a real girl!”
Ipung : “Oh, sekarang kau menggunakan bahasanya Cinta Laura?”
Maya : ”Jangan mulai.....hanya karena kau tak pede menggunakannya.”
Ipung : ”Kita lahir di atas tanah yang sama, apa yang Kau ucapakan dalam bahasa tanah kita, aku sudah bisa memahaminya baik aksen ataupun makna yang menyertainya, tak perlu mengucap bahasa tanah orang lain.”
Maya : ”Itu ekspresi, jangan mendebatnya!”
(theng!!)
Ipung : ”Kau menikah?”
Maya : ”Belum, Kau?”
Ipung : ”Nanti.....”
Maya : “Kau menungguku?”
Ipung : „Perasaan itu tidak bisa dipaksakan pada setiap orang yang kita temui, karena perasaan bukan permainan yang bisa singgah dan berlalu begitu saja pada seseorang. Lobby jiwanya dan eksploitasi raganya, lalu pergi dan berganti...”
Maya : ”Kau akan menemui banyak pemberontak dari pikiranmu itu di jaman ini, walaupun aku sependapat untukmu.”
Ipung : ”Jiwa itulah kunci dari raga dan sikapmu, begitu kau serahkan tanpa akad pada orang yang lupa, maka...”
Maya : ”Apa?”
Ipung : ”Tidak...”
Maya : ”Kau takut?”
Ipung : ”Iya!”
Maya : ”Mengapa?”
Ipung : ”Orang yang lupa biasanya tidak lupa untuk membuat alasan, menciptakan teori, rumusan bahkan undang-undang bahwa sikap ke-lupa-annya itu menjadi hal yang bisa diterima.”
Maya : ”Kau pernah lupa?”
Ipung : ”......Jika yang kau maksud aku lupa untuk bilang perasaanku padamu saat aku masih lugu dulu,.....ya, aku pernah lupa.”
Maya : ”Kau menungguku?”
Ipung : ”Aku merasakanmu..”
Maya : ”Ah, perasaan itu abstrak, terlalu banyak makna, mencabang beribu intepretasi!!!!”
(theng!!!)
Ipung : ”Apa yang kau cari?”
Maya : ”Kau!”
Ipung : ”Lalu?”
Maya : ”Hatimu!”
Ipung : ”Lalu?”
Maya : ”Jawabanmu!”
(theng!!!)
Ipung : ”Hmm...Aku tak bisa menunggu seseorang yang dipunyai....”
Maya : ”Seseorang yang dipunyai tak seharusnya bertemu dengan lain.”
Ipung : ”Tapi Kau pernah melakukannya...”
Maya : ”Aku sudah janji sebelum dipunyai.”
Ipung : ”Jadi...??”
Maya : ”Ya..!!”
Ipung : ”Mengapa?”
Maya : ”Jangan tanya....sebab, sekarang Aku disini.”
Ipung : ”Untukku?”
Maya : ”Untuk kita.....”
*****
<>Sulewana, 01 Maret 2009<>
Sang gadis memandang segelintir yang lewat, meski tak satupun yang diharap terlihat, sejenak seseorang menyandarkan pinggangnya di sandaran kursi membelakangi sang gadis, sambil kedua tangannya memegang sandaran, sang gadis melirik....
Maya : ”Kita pernah mengalami ini..”
Ipung : ”Apa, seseorang menunggu dan yang lainnya terlambat?”
Maya : ”Bedanya, Aku dulu yang terlambat, dan sekarang Aku yang menunggu.”
Ipung : ”Ku harap Kau tak lebih lama dariku.”
Maya : ”Lama atau sebentar, toh akhirnya kita bertemu...rentang waktu yang membawa kita pada hari ini.”
Ipung : ”Aku hanya mengikuti alur terkecil yang ada dalam benakku, yang sempat tersekat untuk beberapa saat, beberapa saat yang tidak bisa dibilang sekejap. Hingga akhirnya terbuka, dan memberi tanya, ada apa?”
(diam)
”Kau merindukanku?”
Maya : ”Hahaha.....Kau tak pernah berubah, selalu memikirkan fantasi.”
Ipung : ”Fantasi-fantasi itu adalah sebuah potensi, saat mereka menemukan perbedaan elevasi, maka fantasi-fantasi itu akan bergerak dan menghasilkan energi yang dahsyat.......kenyataan!”
Maya : ”Kau terlalu menghayati The Secret?”
Ipung : ”Aku tak sepenuhnya percaya dengan itu, saat mereka mengabaikan campur tangan Tuhan. Karena Tuhan selalu punya kendali terhadap pikiran kita, siapapun, dimanapun dan kapanpun termasuk kita dan hari ini.”
(angin seketika bersiul riuh mengadu ranting, yang tua patah dan terhempas ke tanah)
(keduanya diam)
Ipung : ”Jadi.....kau merindukanku?”
Maya : ”Kau pun?”
Ipung : ”Hmmm......mengapa jawaban selalu punya kecepatan rendah, saat pertanyaan melesat?”
Maya : ”Sebab, pertanyaan hati berbicara tentang dua sisi yang tak selalu mudah dihayati.”
Ipung : ”Kau takut negasi?”
Maya : ”Lebih indah jika seirama, mengalun membentuk nada mencipta rasa tanpa interupsi.”
Ipung : ”Aku pernah membicarakannya dengan seseorang, dan akhirnya Aku menemui kenyataan, tak ingatkah?”
Maya : ”Jangan selalu menganggap berulangnya waktu membawa kesamaan isi. Sungai tak selalu membawa sampah, ada juga biota indah disana.”
Ipung : ”Kita tak selalu tahu bagaimana mendatang? Empirisisme adalah salah satu dasar yang bisa dipakai untuk memprediksi.”
Maya : ”Mengabaikan x-ternal factor?”
(seekor burung hinggap di tanah, mengambil sepotong ranting dengan mulutnya dan terbang lagi, yang lain riang di dahan mengisi telinga yang menyimak)
Ipung : ”Jadi?”
Maya : ”Ya...!”
Ipung : ”Hmmm...., (diam) Bagaimana dengannya?”
Maya : ”Masing-masing mempunyai ingin, menyatu menjadi harap dan mengisi setiap waktu...”
Ipung : ”Aku mendengar....”
Maya : ”Dia datang dan aku menyambut, begitu sebaliknya tanpa melepaskan hati...”
Ipung : ”Lalu...?”
Maya : ”Bunga mawar terbaik yang bisa ditemukannya pernah menempel di pintu kamarku saat Aku mengulang tahun. Hingga teman-teman kost ku yang lain berhamburan keluar karena harumnya.”
Ipung : ”Hmmm......berlebihan!”
Maya : ”Hihihih....aku pernah melihat wajah itu.” (sambil melihat ekspresi wajah Ipung)
Ipung : ”Wajah apa?”
Maya : ”Wajahmu yang seperti itu..., aku masih mengingatnya....wajah seperti itu muncul saat ada coklat di meja kelasku. Waktu itu seketika langit tertutup awan hitam, geledek menyambar-nyambar, angin meliuk-liuk membawa serpihan kertas yang berserakan di dalam kelas....”
Ipung : ”Hiperbola...!!”
Maya : ”Hihihi...padahal, itu kan coklat dari Dessy teman semejaku yang ibunya punya usaha aneka makanan yang terbuat dari coklat. Lagian kita kan bukan apa-apa waktu itu, pacar juga nggak.”
Ipung : ”Hmm...”
Maya : ”Dulu...Kau cukup misterius bagiku, satu orang yang menatapku dari sekian banyak wajah lelaki putih abu-abu. Entah mengapa, saat melihatmu ada semacam harapku di matamu, meskipun kata-kata mu untuk tak sebanyak pandanganmu padaku.”
Ipung : ”Aku hanya mengikuti naluriku.”
Maya : ”Naluri itu juga potensi, ia harus menemukan jalannya untuk bisa menghasilkan energi yang dahsyat.....kenyataan!”
Ipung : ”Itu kata-kataku”
Maya : ”Kau referensiku”
Ipung : ”Hmm....”
Maya : ”Hmm??, tak adakah kata-kata untukku selain hmm....?”
Ipung : ”Itu ekspresi, jangan mendebatnya.”
Maya : ”Kau masih sama, sama misteriusnya seperti dulu..”
Ipung : ”Kecuali perasaanku...”
Maya : ”Perasaan??”
Ipung : ”Padamu!”
(theng!!)
Maya : ”Ah, sama saja, masih misteri.”
Ipung : ”Setiap orang membawa misterinya masing-masing.”
Maya : ”I am a real girl!”
Ipung : “Oh, sekarang kau menggunakan bahasanya Cinta Laura?”
Maya : ”Jangan mulai.....hanya karena kau tak pede menggunakannya.”
Ipung : ”Kita lahir di atas tanah yang sama, apa yang Kau ucapakan dalam bahasa tanah kita, aku sudah bisa memahaminya baik aksen ataupun makna yang menyertainya, tak perlu mengucap bahasa tanah orang lain.”
Maya : ”Itu ekspresi, jangan mendebatnya!”
(theng!!)
Ipung : ”Kau menikah?”
Maya : ”Belum, Kau?”
Ipung : ”Nanti.....”
Maya : “Kau menungguku?”
Ipung : „Perasaan itu tidak bisa dipaksakan pada setiap orang yang kita temui, karena perasaan bukan permainan yang bisa singgah dan berlalu begitu saja pada seseorang. Lobby jiwanya dan eksploitasi raganya, lalu pergi dan berganti...”
Maya : ”Kau akan menemui banyak pemberontak dari pikiranmu itu di jaman ini, walaupun aku sependapat untukmu.”
Ipung : ”Jiwa itulah kunci dari raga dan sikapmu, begitu kau serahkan tanpa akad pada orang yang lupa, maka...”
Maya : ”Apa?”
Ipung : ”Tidak...”
Maya : ”Kau takut?”
Ipung : ”Iya!”
Maya : ”Mengapa?”
Ipung : ”Orang yang lupa biasanya tidak lupa untuk membuat alasan, menciptakan teori, rumusan bahkan undang-undang bahwa sikap ke-lupa-annya itu menjadi hal yang bisa diterima.”
Maya : ”Kau pernah lupa?”
Ipung : ”......Jika yang kau maksud aku lupa untuk bilang perasaanku padamu saat aku masih lugu dulu,.....ya, aku pernah lupa.”
Maya : ”Kau menungguku?”
Ipung : ”Aku merasakanmu..”
Maya : ”Ah, perasaan itu abstrak, terlalu banyak makna, mencabang beribu intepretasi!!!!”
(theng!!!)
Ipung : ”Apa yang kau cari?”
Maya : ”Kau!”
Ipung : ”Lalu?”
Maya : ”Hatimu!”
Ipung : ”Lalu?”
Maya : ”Jawabanmu!”
(theng!!!)
Ipung : ”Hmm...Aku tak bisa menunggu seseorang yang dipunyai....”
Maya : ”Seseorang yang dipunyai tak seharusnya bertemu dengan lain.”
Ipung : ”Tapi Kau pernah melakukannya...”
Maya : ”Aku sudah janji sebelum dipunyai.”
Ipung : ”Jadi...??”
Maya : ”Ya..!!”
Ipung : ”Mengapa?”
Maya : ”Jangan tanya....sebab, sekarang Aku disini.”
Ipung : ”Untukku?”
Maya : ”Untuk kita.....”
*****
<>Sulewana, 01 Maret 2009<>
Tuesday, April 21, 2009
Bintang
Ada kesenangan saat mencari sebuah bintang dan memberikannya padamu. Bintang kertas, bintang plastic, bintang kayu ataupun bintang laut. Semua atribut yang berbentuk bintang akan ku carikan dan ku berikan untukmu, karena kau menyukainya. Kau sangat menggemarinya hingga jemarimu pun begitu terampil memainkan selembar kertas menjadi sebuah bintang.
Memang bintang itu indah, saat ku lihat sekumpulan bintang laut yang sudah kering berserakan tampak manis diantara pasir putih pantai. Sisinya yang lima menjulur bagai jari-jari mungil menggenggam apapun yang ada di bawahnya. Ku pandang, ku pegang dan ku masukkan ke kantongku untuk ku berikan padamu.
Aku begitu khawatir saat membawa bintang itu. Aku takut akan patah salah satu sisinya dan kelihatan tidak indah lagi. Setiap beberapa langkah ku lihat kantongku yang berisi bintangmu dengan tanganku secara halus memegangnya perlahan. Menjaganya agar tidak bergoyang jatuh dan akhirnya remuk. Tidak, bintang ini tidak boleh rusak. Bintang ini harus sampai ke tanganmu utuh, seutuh cita-citaku padamu.
Ku berlari dengan bintang yang tersimpan di kantong baju. Orang selalu memperhatikanku yang nampak tergesa, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin memberikan bintang ini padamu, itu saja!.
Memang bintang itu indah, saat ku lihat sekumpulan bintang laut yang sudah kering berserakan tampak manis diantara pasir putih pantai. Sisinya yang lima menjulur bagai jari-jari mungil menggenggam apapun yang ada di bawahnya. Ku pandang, ku pegang dan ku masukkan ke kantongku untuk ku berikan padamu.
Aku begitu khawatir saat membawa bintang itu. Aku takut akan patah salah satu sisinya dan kelihatan tidak indah lagi. Setiap beberapa langkah ku lihat kantongku yang berisi bintangmu dengan tanganku secara halus memegangnya perlahan. Menjaganya agar tidak bergoyang jatuh dan akhirnya remuk. Tidak, bintang ini tidak boleh rusak. Bintang ini harus sampai ke tanganmu utuh, seutuh cita-citaku padamu.
Ku berlari dengan bintang yang tersimpan di kantong baju. Orang selalu memperhatikanku yang nampak tergesa, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin memberikan bintang ini padamu, itu saja!.
Monday, April 20, 2009
Karang dan Ombak
Aku melihat ombak bergemuruh di laut, bergulung-gulung menerjang batu karang di pantai kenangan. Sekali, dua kali dan seterusnya hingga karang-karang itu tak kuat lagi menahan hantaman ombak yang kian ganas. Karang yang semula kokoh menjulang tinggi bak benteng pertahanan sebuah kastil, perlahan-lahan retak, berongga, dan akhirnya runtuh oleh air yang berujud ombak.
Karang dan ombak, laksana dua sahabat yang saling hidup berdampingan di lingkungan yang disebut pantai. Namun mengapa satu menyakiti yang lain? Ombak menerjang tak henti-hentinya pada karang. Seakan-akan karang mempunyai dosa masa lampau dan ombak menghajar karang memendam dendam kesumat. Atau mungkin di kehidupan yang lalu, karang dan ombak adalah sepasang kekasih. Keduanya hidup berdua menyulam benang-benang kasih menjadi kain kebahagiaan menyelimuti hari. Hingga akhirnya salah satu menghianati yang lain dan itu menumbuhkan kebencian yang mendalam sampai sekarang?
Ah, tak tahulah! Yang jelas aku bukan sang karang itu. Yang mudah rapuh diterjang ombak, yang mudah putus asa karena sikap ombak yang kadang datang pun tak jarang menjauh. Aku adalah……angin! Ya, akulah sang angin. Yang mendorong dan mengantarkan ombak menyusuri lautan dan akhirnya menyentuh pasir pantai dan tentu saja, menyapa sang karang. Aku adalah angin yang padaku burung-burung melambai-lambaikan sayapnya, berteriak merdu mengangkasa. Akulah angin yang selalu mengantarkan pesan-pesan alam. Meski kadang ku tak mampu menyampaikan pesan hati seseorang pada kekasihnya. Perasaan cinta seseorang itu terlalu berat untuk ku dekap dengan kedua tanganku, lebih berat dari besi bersayap dengan baling-baling di kedua sisinya.
Karang dan ombak, laksana dua sahabat yang saling hidup berdampingan di lingkungan yang disebut pantai. Namun mengapa satu menyakiti yang lain? Ombak menerjang tak henti-hentinya pada karang. Seakan-akan karang mempunyai dosa masa lampau dan ombak menghajar karang memendam dendam kesumat. Atau mungkin di kehidupan yang lalu, karang dan ombak adalah sepasang kekasih. Keduanya hidup berdua menyulam benang-benang kasih menjadi kain kebahagiaan menyelimuti hari. Hingga akhirnya salah satu menghianati yang lain dan itu menumbuhkan kebencian yang mendalam sampai sekarang?
Ah, tak tahulah! Yang jelas aku bukan sang karang itu. Yang mudah rapuh diterjang ombak, yang mudah putus asa karena sikap ombak yang kadang datang pun tak jarang menjauh. Aku adalah……angin! Ya, akulah sang angin. Yang mendorong dan mengantarkan ombak menyusuri lautan dan akhirnya menyentuh pasir pantai dan tentu saja, menyapa sang karang. Aku adalah angin yang padaku burung-burung melambai-lambaikan sayapnya, berteriak merdu mengangkasa. Akulah angin yang selalu mengantarkan pesan-pesan alam. Meski kadang ku tak mampu menyampaikan pesan hati seseorang pada kekasihnya. Perasaan cinta seseorang itu terlalu berat untuk ku dekap dengan kedua tanganku, lebih berat dari besi bersayap dengan baling-baling di kedua sisinya.
Sunday, April 19, 2009
Penarik Rakit

Penarik rakit memegang kayuh di tepi danau
Manatap Sang angsa yang asyik bermain dengan kawanannya
Sementara daun-daun masih berbisik melantunkan pagi
Sang angsa melirik penarik rakit sambil lalu
Senang beriang entah apa
Sedang rakit masih berlumur embun
Tertambat di sebuah pohon
Apa kabar pagi ini?
Siapa tahu yang dinanti
Manguap seiring naiknya mentari
Penarik rakit duduk termangu sayup
Melihat sang angsa di malam yang terjaga
Penarik rakit tak kuasa menahan tidur
Letih...lelah...
Menyerahkan pada alam
Untuk apa rencana-Nya
Sedang rakit masih tertambat.
<>China, Februari 14, 2007<>
08.20.am
Sang Angsa

Embun-embun tertahan di permukaan daun
perlahan menguap seiring bangunnya mentari
berganti hangat dalam keceriaan pagi
sang angsa perlahan menceburkan diri ke danau
menyapa panarik rakit
"apa kabar hari ini?" sapanya
"kabarku hari ini agak berbeda dengan kemarin hari." jawab panarik rakit
"apa yang berbeda wahai perakit?"
"karena hari ini aku lebih merasakanmu, dan akan selalu bertambah setiap harinya."
"mengapa kau selalu merayuku?"
"jika itu bukan kesalahan, maka aku akan terus melakukannya."
"lalu bagaimana dengan aku?
"kau boleh mendengarkanku."
penarik rakit terus mengayuh....melintasi riak-riak kecil danau
menghirup aroma pohon pinus yang menjulang berjajar mengelilingi danau
"mengapa kau begitu yakin?" tanya sang angsa lagi
"aku hanya percaya dengan apa yang kuinginkan."
"bagaimana jika sebaliknya?"
"keinginan itu ada karena saat ini belum ada, dan apa salahnya kita kembali pada kebelumadaan itu."
"sia-sia?"
"tidak, karena aku masih bisa punya ingin."
"kau mencintaiku?"
"menurut pesan hatiku seperti itu."
"sangkar emas telah menantiku."
"ku tawarkan rakitku yang reot ini untuk menggantinya."
"lebih baik?"
"aku berharap nyaman."
"ke-belum-pastian."
"apa yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri."
"kau hanya pandai berbicara!"
"itu menyampaikan pesan hatiku, tapi aku akan diam jika ku menginginkannya.
aku tak akan bersuara jika kau mampu mendengarnya"
"aku tidak mampu."
"maka ijinkan aku bicara."
"aku takut, kalo semakin lama kau bicara, aku semakin sulit berpaling dari....mu"
"maka, kita mulai saja ceritanya!"jawab penarik rakit menjauh dari sang angsa.
Pembuat Teh
Pembuat teh itu memungut tumpukan daun2 teh yang telah dirajang
dan menjemurnya di bawah terik mentari
seekor lebah datang menghampiri pembuat teh
"alangkah harumnya aroma daun-daun ini wahai pembuat teh!"
"daun-daun ini memang diciptakan demikian. agar aromanya mampu membelai
syaraf-syaraf menjadi nyaman."
"bukankah keterampilan tanganmu juga berperan dalam menciptakan kenikmatan itu?"
"tanganku hanya mengikuti apa yang sudah lama diajarkan padaku. membuat takaran
yang sudah ditentukan alam.meski kadang alam tidak selamanya menyediakan takaran itu."
"tapi bukannya sedikit kesalahan saja dalam meramu dapat menyebabkan
hilangnya kenikmatan itu?"
"yaaah.....itulah mengapa aku disebut si pembuat teh.meski tak semua orang mau
merasakan teh buatanku."
"mengapa?"
"ada beberapa alasan untuk itu!"
"dan aku disini untuk mendengar alasan itu"
"mmm......aku tidak tahu apakah alasan-alasan itu begitu penting.
setiap orang tidak selalu punya pandangan yang sama terhadap seseorang yang lain,
pun seseorang tidak selalu sama dalam menilaiku sebagai pembuat teh.aku hanya
pembuat teh, begitu pula mereka pembuat teh yang lain. mereka membuat teh sesuai
dengan takarannya,tergantung lidah orang mana yang paling sesuai.
aku pun demikian, tidak semua lidah mampu ku singgahi dengan tehku.
namun yang pasti, kadang aku membuat teh hanya untuk seseorang tertentu.
orang yang memang aku ingin membuatkan teh untuknya."
"maukah kau membuatkan segelas teh untukku, wahai pembuat teh?"
"berapa takaran untukmu, wahai lebah kecil?"
"takaranku adalah takaran alam yang disampaikan padamu."
"hmm....semoga aku tidak salah dalam memahami pertanda alam."
"dan...semoga aku mampu untuk mencerna teh buatanmu."kata sang lebah.
(cileungsi, june 12 2006)
dan menjemurnya di bawah terik mentari
seekor lebah datang menghampiri pembuat teh
"alangkah harumnya aroma daun-daun ini wahai pembuat teh!"
"daun-daun ini memang diciptakan demikian. agar aromanya mampu membelai
syaraf-syaraf menjadi nyaman."
"bukankah keterampilan tanganmu juga berperan dalam menciptakan kenikmatan itu?"
"tanganku hanya mengikuti apa yang sudah lama diajarkan padaku. membuat takaran
yang sudah ditentukan alam.meski kadang alam tidak selamanya menyediakan takaran itu."
"tapi bukannya sedikit kesalahan saja dalam meramu dapat menyebabkan
hilangnya kenikmatan itu?"
"yaaah.....itulah mengapa aku disebut si pembuat teh.meski tak semua orang mau
merasakan teh buatanku."
"mengapa?"
"ada beberapa alasan untuk itu!"
"dan aku disini untuk mendengar alasan itu"
"mmm......aku tidak tahu apakah alasan-alasan itu begitu penting.
setiap orang tidak selalu punya pandangan yang sama terhadap seseorang yang lain,
pun seseorang tidak selalu sama dalam menilaiku sebagai pembuat teh.aku hanya
pembuat teh, begitu pula mereka pembuat teh yang lain. mereka membuat teh sesuai
dengan takarannya,tergantung lidah orang mana yang paling sesuai.
aku pun demikian, tidak semua lidah mampu ku singgahi dengan tehku.
namun yang pasti, kadang aku membuat teh hanya untuk seseorang tertentu.
orang yang memang aku ingin membuatkan teh untuknya."
"maukah kau membuatkan segelas teh untukku, wahai pembuat teh?"
"berapa takaran untukmu, wahai lebah kecil?"
"takaranku adalah takaran alam yang disampaikan padamu."
"hmm....semoga aku tidak salah dalam memahami pertanda alam."
"dan...semoga aku mampu untuk mencerna teh buatanmu."kata sang lebah.
(cileungsi, june 12 2006)
Janji Hujan 03 - Sepotong Bibir Dalam Spion
“E….e….anu…., jangan kau tanya bagaimana perasaanku.”
“Sebab, e…. e…., aku…., aku….”
*****
Aku masih mengamati rintik hujan yang turun di bawah lampu kota. Butiran-butiran kecilnya jatuh lebih pelan dari kelihatananya, semakin lama ku perhatikan seperti jatuhan meteor yang menghujami bumi dalam serpihan-serpihan kecil, mengenai wajahku dan menguap.
Puisi-puisi itu pun masih diteriakkan dari mulut-mulut anak negeri yang peduli dengan saudaranya, pergantian tahun tanpa terompet dan kembang api, demikian mereka menyebut aktivitasnya, dan rupiah pun terkumpul untuk Aceh.
Mataku sudah mulai merah melihat lalu lalang kendaraan bermotor yang mengeluarkan emisi gas buang berlebih, saat ku lihat sepotong bibir seorang gadis di kaca spion motorku. Dari dagu sampai bibir, sedangkan hidung ke atas tidak terlihat terpotong kaca spion. Bibir yang tipis manis, simetris, agak merah dengan dagu yang terbelah, singgah pada sesosok tubuh yang sendiri.
Ku hampiri gadis berjilbab pemilik sepotong bibir manis yang ada dalam spionku itu.
“Sendirian?” sapaku basa basi
“Iya!” jawabnya singkat
“Mm..mm…boleh kenalan?”
Gadis itu menatapku, lalu mamalingkan wajahnya dan diam.
“Ok, nggak papa kalau nggak mau kenalan, setidaknya aku sudah berusaha menyapa dengan itikad baik.” Kataku menanggapi sikapnya yang dingin.
Gadis pemilik sepotong bibir dalam spion itu masih saja membisu diantara suara-suara terompet yang sesekali dibunyikan dari pengendara sepeda motor.
“Eh, ada apa dengan matamu?” tanyaku tiba-tiba pada gadis di sampingku itu.
Dia agak kaget dan mengusap-usap matanya, mencari-cari kalau ada yang salah. Dia memandangku seakan menanyakan apa yang salah dengan matanya.
“Kenapa di matamu ada cahayanya, biar ku lihat sebentar.” Kataku. “Oo…ternyata bintang. Bintang-bintang di angkasa itu memantulkan cahayanya di matamu, makanya matamu seperti bersinar.”
Gadis pemilik sepotong bibir dalam spion itu tersenyum, menahannya dalam lesung pipit.
“Lailla!!” ucapnya tiba-tiba dengan mengangkat tangannya.
Ku lihat jari-jari yang lentik, putih bersih menjulur ke arahku. Tanpa banyak waktu, ku sambut tangan itu.
“Ipung!!” Balasku menyebut nama.
Kata Einstein, besarnya cinta yang dihasilkan sama dengan jumlah rayuan dikalikan jumlah kuadrat waktu bertemu, dan aku sedang membuktikan postulat ini.1) Percakapan kami mulai berkembang tanpa hambatan, lama, hingga akhirnya ku tawarkan untuk mengantarnya pulang. Sejenak ia merasa ragu, namun akhirnya ragu itu menguap dengan semakin hangatnya rayuan..
Ku lewati jalanan itu dengan hati riang dan rintik hujan juga masih menyelubungi bumi atas nama gerimis yang mengiringi. Ku tengok kaca spion, sepotong bibir itu masih ada. Bedanya, sepotong bibir itu bersamaku sekarang. Motorku melaju menyusuri jalanan yang seakan sudah ku kenal dan berhenti di sebuah rumah yang aku tidak asing lagi.
“Kamu kost disini?”
“Iya! Kenapa?”
“ Kau kenal Dini?”
“Mbak Dini? dia adalah kakakku!”
*****
“Oaaaaahh!”
Pagi yang indah, meski agak sedikit menjengkelkan. Bangunku bukan karena keinginan, tapi terpekakkan oleh teriakan motor teman kost yang mem-bleyer seenaknya, ditambah asap knalpot dua tak-nya menjejal masuk kamar bagai embun-embun polusi yang menyesakkan dada. Tapi aku tetap bersyukur, karena masih bisa bangun dari tidur, terus mandi, dan tidak lupa menggosok gigi, seperti lagu yang sering didendangkan anak-anak.
Suara HP memantul nyaring ditembok kamar, bergetar, muncul sebuah nama berkedip-kedip diantara nyala lampunya.
“Hallo……..?”
“Bisa!! Aku akan kesana sekarang”
*****
Aku sudah sampai di depan rumah yang yang tadi malam baru saja ku singgahi. Dini sudah duduk di sebuah kursi bambu depan rumah. Dengan agak ragu ku hampiri Dini dan duduk disebelahnya. Aku masih ingat betul bagaimana kejadian beberapa minggu lalu.
“Mau minum apa Pung?” katanya menawari sesuatu
“Apa aja deh.”
Dini segera masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian telah membawa segelas sirup nutrisari dalam sebuah mug berhiaskan gambar Mickey Mouse.
Hari itu cerah, tidak seperti biasanya, dimana hujan selalu hadir di setiap waktu. Pun saat Dini mulai membuka pembicaraan.
“Aku minta maaf, Pung. Waktu itu………”
Ku abaikan omongan Dini, karena kalimat berikutnya sama seperti dalam mimpiku yang lalu. Aku pun menepuk-nepuk pipiku berulang kali, siapa tahu aku mimpi lagi, dan ternyata pipiku memerah karena tamparanku.
“Roy memang brengs….”
“Sudahlah!” ku potong kata-kata Dini.
“Kau memaafkanku? Makasih ya Pung.” Kata Dini setelah melihat anggukan kepalaku.
“Pung…….., sebenarnya kamu gimana sih? E…e…sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku, Pung?”
Aku agak kaget, sedikit tersenyum dan lumayan bingung. Aku tahu arah pembicaraan Dini dan ini sebanarnya yang dulu ku nantikan.
“Pung!!!” suara Dini menyentakkanku dari lamunan. Aku agak bingung bagaimana harus menjawabnya.
“E….e….anu…., jangan kau tanya bagaimana perasaanku.”
“Sebab, e…. e…., aku…., aku…..aku cinta adikmu!!!!!”
“Hah!!!!” Dini kaget mendengar kata yang baru saja ku ucapkan. “Kamu cinta Lailla??? Bagaimana bisa?”
“Bisa saja, sebab getaran harmonis jiwaku berfrekuensi sama dengan getaran harmonis jiwa adikmu, sehingga apabila kami mengaturnya, bukankah akan terdengar nada yang indah?” 1)
Seketika tiba-tiba terdengar suara geledek merayap di udara mendekati pendengaran kami yang diam sehingga frekuensi yang didengar menjadi lebih tinggi.1) Seperti film-film Indonesia tempo dulu, setelah geledek lalu turunlah hujan deras, mengiringi Dini yang langsung lari ke dalam sambil sesenggukan mengeluarkan air mata kecewa.
Aku hanya bisa meihat kejadian itu dengan iba. Apakah aku salah? Apakah aku harus membohongi perasaanku? Yaaah….akhirnya ku starter motorku untuk pulang, meski hujan sedang ramai-ramainya berpesta.
“Bagaimana sikapku, hujan?” tanyaku pada air itu.
“Siiip!!! Cukup ilmiah penjelasanmu.” Katanya tanpa diikuti oleh acungan jempol, sebab mereka tak memilikinya.
Sebelum keluar dari pintu gerbang, ku lihat sepotong bibir dalam spion. Bibir yang sama dengan kemarin malam, berada di balik kaca jendela, dan tersenyum.
Jogja, February 10, 2005
1) John
“Sebab, e…. e…., aku…., aku….”
*****
Aku masih mengamati rintik hujan yang turun di bawah lampu kota. Butiran-butiran kecilnya jatuh lebih pelan dari kelihatananya, semakin lama ku perhatikan seperti jatuhan meteor yang menghujami bumi dalam serpihan-serpihan kecil, mengenai wajahku dan menguap.
Puisi-puisi itu pun masih diteriakkan dari mulut-mulut anak negeri yang peduli dengan saudaranya, pergantian tahun tanpa terompet dan kembang api, demikian mereka menyebut aktivitasnya, dan rupiah pun terkumpul untuk Aceh.
Mataku sudah mulai merah melihat lalu lalang kendaraan bermotor yang mengeluarkan emisi gas buang berlebih, saat ku lihat sepotong bibir seorang gadis di kaca spion motorku. Dari dagu sampai bibir, sedangkan hidung ke atas tidak terlihat terpotong kaca spion. Bibir yang tipis manis, simetris, agak merah dengan dagu yang terbelah, singgah pada sesosok tubuh yang sendiri.
Ku hampiri gadis berjilbab pemilik sepotong bibir manis yang ada dalam spionku itu.
“Sendirian?” sapaku basa basi
“Iya!” jawabnya singkat
“Mm..mm…boleh kenalan?”
Gadis itu menatapku, lalu mamalingkan wajahnya dan diam.
“Ok, nggak papa kalau nggak mau kenalan, setidaknya aku sudah berusaha menyapa dengan itikad baik.” Kataku menanggapi sikapnya yang dingin.
Gadis pemilik sepotong bibir dalam spion itu masih saja membisu diantara suara-suara terompet yang sesekali dibunyikan dari pengendara sepeda motor.
“Eh, ada apa dengan matamu?” tanyaku tiba-tiba pada gadis di sampingku itu.
Dia agak kaget dan mengusap-usap matanya, mencari-cari kalau ada yang salah. Dia memandangku seakan menanyakan apa yang salah dengan matanya.
“Kenapa di matamu ada cahayanya, biar ku lihat sebentar.” Kataku. “Oo…ternyata bintang. Bintang-bintang di angkasa itu memantulkan cahayanya di matamu, makanya matamu seperti bersinar.”
Gadis pemilik sepotong bibir dalam spion itu tersenyum, menahannya dalam lesung pipit.
“Lailla!!” ucapnya tiba-tiba dengan mengangkat tangannya.
Ku lihat jari-jari yang lentik, putih bersih menjulur ke arahku. Tanpa banyak waktu, ku sambut tangan itu.
“Ipung!!” Balasku menyebut nama.
Kata Einstein, besarnya cinta yang dihasilkan sama dengan jumlah rayuan dikalikan jumlah kuadrat waktu bertemu, dan aku sedang membuktikan postulat ini.1) Percakapan kami mulai berkembang tanpa hambatan, lama, hingga akhirnya ku tawarkan untuk mengantarnya pulang. Sejenak ia merasa ragu, namun akhirnya ragu itu menguap dengan semakin hangatnya rayuan..
Ku lewati jalanan itu dengan hati riang dan rintik hujan juga masih menyelubungi bumi atas nama gerimis yang mengiringi. Ku tengok kaca spion, sepotong bibir itu masih ada. Bedanya, sepotong bibir itu bersamaku sekarang. Motorku melaju menyusuri jalanan yang seakan sudah ku kenal dan berhenti di sebuah rumah yang aku tidak asing lagi.
“Kamu kost disini?”
“Iya! Kenapa?”
“ Kau kenal Dini?”
“Mbak Dini? dia adalah kakakku!”
*****
“Oaaaaahh!”
Pagi yang indah, meski agak sedikit menjengkelkan. Bangunku bukan karena keinginan, tapi terpekakkan oleh teriakan motor teman kost yang mem-bleyer seenaknya, ditambah asap knalpot dua tak-nya menjejal masuk kamar bagai embun-embun polusi yang menyesakkan dada. Tapi aku tetap bersyukur, karena masih bisa bangun dari tidur, terus mandi, dan tidak lupa menggosok gigi, seperti lagu yang sering didendangkan anak-anak.
Suara HP memantul nyaring ditembok kamar, bergetar, muncul sebuah nama berkedip-kedip diantara nyala lampunya.
“Hallo……..?”
“Bisa!! Aku akan kesana sekarang”
*****
Aku sudah sampai di depan rumah yang yang tadi malam baru saja ku singgahi. Dini sudah duduk di sebuah kursi bambu depan rumah. Dengan agak ragu ku hampiri Dini dan duduk disebelahnya. Aku masih ingat betul bagaimana kejadian beberapa minggu lalu.
“Mau minum apa Pung?” katanya menawari sesuatu
“Apa aja deh.”
Dini segera masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian telah membawa segelas sirup nutrisari dalam sebuah mug berhiaskan gambar Mickey Mouse.
Hari itu cerah, tidak seperti biasanya, dimana hujan selalu hadir di setiap waktu. Pun saat Dini mulai membuka pembicaraan.
“Aku minta maaf, Pung. Waktu itu………”
Ku abaikan omongan Dini, karena kalimat berikutnya sama seperti dalam mimpiku yang lalu. Aku pun menepuk-nepuk pipiku berulang kali, siapa tahu aku mimpi lagi, dan ternyata pipiku memerah karena tamparanku.
“Roy memang brengs….”
“Sudahlah!” ku potong kata-kata Dini.
“Kau memaafkanku? Makasih ya Pung.” Kata Dini setelah melihat anggukan kepalaku.
“Pung…….., sebenarnya kamu gimana sih? E…e…sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku, Pung?”
Aku agak kaget, sedikit tersenyum dan lumayan bingung. Aku tahu arah pembicaraan Dini dan ini sebanarnya yang dulu ku nantikan.
“Pung!!!” suara Dini menyentakkanku dari lamunan. Aku agak bingung bagaimana harus menjawabnya.
“E….e….anu…., jangan kau tanya bagaimana perasaanku.”
“Sebab, e…. e…., aku…., aku…..aku cinta adikmu!!!!!”
“Hah!!!!” Dini kaget mendengar kata yang baru saja ku ucapkan. “Kamu cinta Lailla??? Bagaimana bisa?”
“Bisa saja, sebab getaran harmonis jiwaku berfrekuensi sama dengan getaran harmonis jiwa adikmu, sehingga apabila kami mengaturnya, bukankah akan terdengar nada yang indah?” 1)
Seketika tiba-tiba terdengar suara geledek merayap di udara mendekati pendengaran kami yang diam sehingga frekuensi yang didengar menjadi lebih tinggi.1) Seperti film-film Indonesia tempo dulu, setelah geledek lalu turunlah hujan deras, mengiringi Dini yang langsung lari ke dalam sambil sesenggukan mengeluarkan air mata kecewa.
Aku hanya bisa meihat kejadian itu dengan iba. Apakah aku salah? Apakah aku harus membohongi perasaanku? Yaaah….akhirnya ku starter motorku untuk pulang, meski hujan sedang ramai-ramainya berpesta.
“Bagaimana sikapku, hujan?” tanyaku pada air itu.
“Siiip!!! Cukup ilmiah penjelasanmu.” Katanya tanpa diikuti oleh acungan jempol, sebab mereka tak memilikinya.
Sebelum keluar dari pintu gerbang, ku lihat sepotong bibir dalam spion. Bibir yang sama dengan kemarin malam, berada di balik kaca jendela, dan tersenyum.
Jogja, February 10, 2005
1) John
Janji Hujan 02
“Tik…tik…tik…bunyi anu di atas anu, anunya Anung tidak terkira. Cobalah tengok anunya Anung, anunya Anung basah semua…”
Hujan itu bernyanyi di luar kamarku dengan suaranya yang tidak merdu, mengalun seperti rentetan peluru. Aku ingin tertawa mendengar lirik yang diplesetkan oleh kawanan air jatuh itu.
“Kau tak usah menghiburku, kekecewaanku tak seperti yang kau pikirkan!” kataku pada hujan di pagi yang dingin.
“Lagi pula kejadian itu juga sudah beberapa hari yang lalu, sehingga aku sudah melupakannya.”
“Ya….siapa tau kau perlu hiburan.” Katanya. “Hei, kau lagi ngapain?”
“Belajar!!” jawabku
“Hahaha…..kau belajar?” hujan itu menertawaiku
“Apakah begini caramu kalau sedang merasa kecewa sama seorang gadis? Jika saja semua laki-laki sama sepertimu, menghabiskan waktu dengan belajar saat dirinya kagol krono tresno, pasti banyak orang pinter.”
“Sialan!!!” umpatku sambil melemparkan sebuah pensil ke arah hujan.
“Sssttttt…….” Hujan itu mendesis seperti ingin memberitahukan sesuatu.
“Ada apa?”
“Ku lihat di depan sana ada seoarang gadis membawa payung.”
“Apa anehnya gadis membawa payung? Sekarang kan kawananmu sedang berpesta di bumi, wajarlah kalau dia membawa payung untuk menghindari rabaanmu.”
“Sepertinya aku tahu gadis itu.”
“Haha….sok kenal kamu.”
“Dia itu gadis yang beberapa hari lalu kau ke rumahnya, tapi tidak ketemu. Gadis yang membuatmu kagol.”
“Dini?”
“Yup!! Dan…..sepertinya dia menuju kemari.”
“Masa sih?”
Tanpa pikir panjang, segera ku rapikan kamarku. Ku tata buku-buku yang berserakan dan meninggalkannya sebuah di meja dengan posisi terbuka. Yah…membuat kesan orang yang rajin belajar. Ku balik poster seoarang artis perempuan dan menggantinya dengan gambar pesawat. Lampu yang semula terang benderang, ku redupkan dengan memutar panel dimmer, biar menimbulkan suasana romantis.
Ku lihat seorang gadis berjalan ke arah kamarku, aku masih saja duduk di depan meja sambil memegang buku membolak-balikannya tanpa harus membacanya.
“Assalamu’alaikum….” Suara merdu itu masuk menyusuri daun telinga dan melesat menggetarkan gendang telingaku, suaranya terdengar.
“Wa……wa’…wa’alaikum salaam..” jawabku agak tergagap sambil melongok keluar. “Ma…ma…masuk, Din.” Ajakku
Ku dengar di luar hujan semakin deras, dan tersenyum nyinyir padaku. Ku tutup pintu yang semula terbuka, biar hujan itu tak mengintip.
Dengan mengenakan kaos putih bergambar salah satu tokoh kartun, Mickey Mouse, Dini mengambil posisi duduk berhadapan denganku, aku hanya memperhatikannya. Rambutnya yang sebahu hitam legam tergerai seakan menjadi background wajahnya yang putih. Beberapa helai yang lain melintas di depan kening membelah alis yang hampir menyatu menambah manisnya paras.
“A…aku mau minta maaf.” Dini membuka pembicaraan.
“Aku mau minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu.” Ulangnya dengan suara lirih.
“Kejadian yang mana ya?” Tanyaku pura-pura tidak tahu.
Dini memegang bagian bawah dari kaosnya dan memutar-mutarkannya dengan jari, mengekspresikan rasa bersalah dengan mencari sesuatu untuk dipegang.
“Kejadian waktu kamu datang ke tempatku dan aku keluar nonton, padahal kita sudah janjian. Waktu itu tiba-tiba Roy datang dan maksa ngajak nonton, jadi ya…..”
“Nggak papa kok.” Kataku pura-pura tidak keberatan. “Aku yakin setiap orang pasti punya alasan akan sikapnya, dan aku harus menghargai alasan itu, meskipun belum tentu benar.”
Dini hanya tertunduk diam, tanganya masih memutar-mutar kaosnya dan rambutnya terurai ke depan hingga menutupi wajahnya. Hujan di luar pun bertambah semakin deras, terdengar dari suaranya yang nyaring menghantam atap. Aku masih memperhatikan Dini, lama tanpa sepatah kata pun keluar. Hanya pikiran kekaguman atas mahluk ciptaan Tuhan yang ada di depanku ini terbang mengangkasa.
Dini mengangkat wajahnya dan menatapku. Sorot matanya seakan memberi impuls-impuls listrik menembus mataku dan menusuk langsung ke jantung. Ada yang bergetar, rasa yang tak mampu ku lukiskan.
Mata kami masih saling menatap tanpa ada yang mau mengalah untuk menunduk. Perlahan Dini menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat denganku, aku pun merasa terdorong untuk melakukan hal yang sama. Hingga wajah kami hanya dipisahkan oleh udara-udara yang keluar dari nafas masing-masing. Dini menggigit bibir bawahnya dan matanya masih saja memandangku tajam. Aku menyibak rambutnya yang menutupi pipi dan mengaitkannya pelan di belakang telinga. Kulit putih itu terasa halus dengan urat kemerahan yang terlihat. Dini sedikit memejamkan mata, dan aku pun merasa perlu untuk segera…………………………..
Kurasakan sesuatu yang basah di bibirku. Tes…tes….tes……
“Hujaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaann!!!!! Mengapa kau bangunkan aku???”
“Maaf kawan, aku sebenarnya tak ingin membangunkanmu. Tapi apa daya atapmu ada yang bocor dan aku terseret oleh tuan gravitasi masuk ke dalam kamarmu dan mencium, eh mengenai bibirmu.”
“Ah, sompret!! Ternyata cuman mimpi……………”
<>Jogja, Desember 2004<>
>> kagol (bhs. Jawa, artinya: kecewa)
Hujan itu bernyanyi di luar kamarku dengan suaranya yang tidak merdu, mengalun seperti rentetan peluru. Aku ingin tertawa mendengar lirik yang diplesetkan oleh kawanan air jatuh itu.
“Kau tak usah menghiburku, kekecewaanku tak seperti yang kau pikirkan!” kataku pada hujan di pagi yang dingin.
“Lagi pula kejadian itu juga sudah beberapa hari yang lalu, sehingga aku sudah melupakannya.”
“Ya….siapa tau kau perlu hiburan.” Katanya. “Hei, kau lagi ngapain?”
“Belajar!!” jawabku
“Hahaha…..kau belajar?” hujan itu menertawaiku
“Apakah begini caramu kalau sedang merasa kecewa sama seorang gadis? Jika saja semua laki-laki sama sepertimu, menghabiskan waktu dengan belajar saat dirinya kagol krono tresno, pasti banyak orang pinter.”
“Sialan!!!” umpatku sambil melemparkan sebuah pensil ke arah hujan.
“Sssttttt…….” Hujan itu mendesis seperti ingin memberitahukan sesuatu.
“Ada apa?”
“Ku lihat di depan sana ada seoarang gadis membawa payung.”
“Apa anehnya gadis membawa payung? Sekarang kan kawananmu sedang berpesta di bumi, wajarlah kalau dia membawa payung untuk menghindari rabaanmu.”
“Sepertinya aku tahu gadis itu.”
“Haha….sok kenal kamu.”
“Dia itu gadis yang beberapa hari lalu kau ke rumahnya, tapi tidak ketemu. Gadis yang membuatmu kagol.”
“Dini?”
“Yup!! Dan…..sepertinya dia menuju kemari.”
“Masa sih?”
Tanpa pikir panjang, segera ku rapikan kamarku. Ku tata buku-buku yang berserakan dan meninggalkannya sebuah di meja dengan posisi terbuka. Yah…membuat kesan orang yang rajin belajar. Ku balik poster seoarang artis perempuan dan menggantinya dengan gambar pesawat. Lampu yang semula terang benderang, ku redupkan dengan memutar panel dimmer, biar menimbulkan suasana romantis.
Ku lihat seorang gadis berjalan ke arah kamarku, aku masih saja duduk di depan meja sambil memegang buku membolak-balikannya tanpa harus membacanya.
“Assalamu’alaikum….” Suara merdu itu masuk menyusuri daun telinga dan melesat menggetarkan gendang telingaku, suaranya terdengar.
“Wa……wa’…wa’alaikum salaam..” jawabku agak tergagap sambil melongok keluar. “Ma…ma…masuk, Din.” Ajakku
Ku dengar di luar hujan semakin deras, dan tersenyum nyinyir padaku. Ku tutup pintu yang semula terbuka, biar hujan itu tak mengintip.
Dengan mengenakan kaos putih bergambar salah satu tokoh kartun, Mickey Mouse, Dini mengambil posisi duduk berhadapan denganku, aku hanya memperhatikannya. Rambutnya yang sebahu hitam legam tergerai seakan menjadi background wajahnya yang putih. Beberapa helai yang lain melintas di depan kening membelah alis yang hampir menyatu menambah manisnya paras.
“A…aku mau minta maaf.” Dini membuka pembicaraan.
“Aku mau minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu.” Ulangnya dengan suara lirih.
“Kejadian yang mana ya?” Tanyaku pura-pura tidak tahu.
Dini memegang bagian bawah dari kaosnya dan memutar-mutarkannya dengan jari, mengekspresikan rasa bersalah dengan mencari sesuatu untuk dipegang.
“Kejadian waktu kamu datang ke tempatku dan aku keluar nonton, padahal kita sudah janjian. Waktu itu tiba-tiba Roy datang dan maksa ngajak nonton, jadi ya…..”
“Nggak papa kok.” Kataku pura-pura tidak keberatan. “Aku yakin setiap orang pasti punya alasan akan sikapnya, dan aku harus menghargai alasan itu, meskipun belum tentu benar.”
Dini hanya tertunduk diam, tanganya masih memutar-mutar kaosnya dan rambutnya terurai ke depan hingga menutupi wajahnya. Hujan di luar pun bertambah semakin deras, terdengar dari suaranya yang nyaring menghantam atap. Aku masih memperhatikan Dini, lama tanpa sepatah kata pun keluar. Hanya pikiran kekaguman atas mahluk ciptaan Tuhan yang ada di depanku ini terbang mengangkasa.
Dini mengangkat wajahnya dan menatapku. Sorot matanya seakan memberi impuls-impuls listrik menembus mataku dan menusuk langsung ke jantung. Ada yang bergetar, rasa yang tak mampu ku lukiskan.
Mata kami masih saling menatap tanpa ada yang mau mengalah untuk menunduk. Perlahan Dini menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat denganku, aku pun merasa terdorong untuk melakukan hal yang sama. Hingga wajah kami hanya dipisahkan oleh udara-udara yang keluar dari nafas masing-masing. Dini menggigit bibir bawahnya dan matanya masih saja memandangku tajam. Aku menyibak rambutnya yang menutupi pipi dan mengaitkannya pelan di belakang telinga. Kulit putih itu terasa halus dengan urat kemerahan yang terlihat. Dini sedikit memejamkan mata, dan aku pun merasa perlu untuk segera…………………………..
Kurasakan sesuatu yang basah di bibirku. Tes…tes….tes……
“Hujaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaann!!!!! Mengapa kau bangunkan aku???”
“Maaf kawan, aku sebenarnya tak ingin membangunkanmu. Tapi apa daya atapmu ada yang bocor dan aku terseret oleh tuan gravitasi masuk ke dalam kamarmu dan mencium, eh mengenai bibirmu.”
“Ah, sompret!! Ternyata cuman mimpi……………”
<>Jogja, Desember 2004<>
>> kagol (bhs. Jawa, artinya: kecewa)
Janji Hujan
Aku hanya mendengarkan alunan musik yang keluar dari salah satu stasiun radio sore itu. Tak ada aktivitas lain, sebab hujan telah lama menemani sejak siang tadi. Daun-daun lebih berwarna dan tanah menjadi lembek dengan rintik hujan masih saja turun teramati dari balik jendela kamar.
“Hei...kau telah ditunggu.” Ada suara yang membisik masuk ke dalam kamar.
“Kau telah ditunggu seseorang, bukankah kau telah janji padanya untuk datang?” Lanjutnya lagi.
Kulihat sekeliling tak ada orang, bahkan seekor burung pun yang biasanya berseliweran di depan pintu kamar tak menampakkan diri. Masa hujan itu yang bicara padaku, pikirku. Suara itu berulang, “Kau telah ditunggu...”
Ku amati, ku dengarkan dengan seksama, dan benar, hujan itulah yang berbicara padaku.
“Kau yang menyampaikan pesan itu?” Tanyaku pada hujan.
“Ya...” jawabnya.
“Mengapa kau mengatakannya?”
“Karena kau telah membuat janji.”
“Bukankah kau sadar, kau dan kawananmu turun ke bumi tak henti-hentinya, sehingga aku enggan melangkahkan kaki keluar.”
“Maaf teman, aku memang datang lebih sering akhir-akhir ini. Tapi ketahuilah, ini adalah tugas dari Tuhanku untuk membasahi bumi. Yaah, meskipun kadang aku agak berlebihan dan manusia-manusia seperti hidup di tengah lautan. Sekali lagi ketahuilah, ini adalah perintah Tuhan, dan aku tidak mungkin menolak atau mengingkarinya semudah kamu dan teman-temanmu melakukannya. Aku hanya mengingatkanmu bahwa kau punya janji. Janji adalah janji teman, dan itu akan di bawa sampai mati kalau tidak ditepati.”
“Ya...ya...aku akan berangkat, lagi pula aku memang ingin segera melihat wajah cantik itu. Tapi kalau aku boleh meminta, janganlah terlalu cepat jalanmu ke tanah. Pelankan sedikit kecepatanmu pada kecepatan gerimis. Bukankah semakin kencang dirimu, akan semakin sakit saat kau menumbuk tanah?”
“Teman, aku bukan benda pejal seperti kalian. Aku adalah cair dan tanah itu pun tidak padat, ia berongga. Pelan atau cepat, aku tetap akan terserap meski kadang lama. Tapi baiklah, aku akan berusaha menyampaikan permintaanmu kepada teman-temanku yang lain. Namun keputusan tetap di tangan Tuhan.”
Aku pun segera bergegas ke tempat seseorang yang padanya ku berjanji datang. Ku segera menstater motor, dan melaju menyusuri jalan-jalan yang agak sepi karena keengganan orang-orang untuk berbasahan. Aku tidak sendiri, aku masih ditemani hujan yang tak henti-henti mengguyur.
“Hei!!” kataku pada hujan. “Kadang kau tak muncul dalam waktu yang lama, apa yang sebenarnya kau lakukan?”
“Adanya aku adalah dari siklus atau perputaran. Saat aku jatuh, aku terserap lalu tertahan oleh akar-akar pohon yang ditanam manusia lalu aku muncul pada sumber-sumber air seperti sumur, danau atau mengalir ke laut untuk kemudian sinar matahari mengubahku ke bentuk lain yang sangat ringan, berkumpul menjadi awan dengan banyak model, cumullus atau cirrus. Dan angin-angin itu menggesekkan panasnya hingga aku pun berubah wujud lagi seperti semula, cair dan jatuh ke bumi. Namun karena ada sebagian atau mungkin banyak manusia yang merusak alamnya, menjadikan siklusku tidak lancar, bukan siklus kewanitaan, tapi siklus kehujanan. Tapi yang paling tak bisa ku sangkal, adalah kadang-kadang Tuhan menahanku untuk waktu yang lama agar tak mengunjungi bumi, ini adalah hak preogatip-Nya. Karena Tuhan masih terlalu sayang pada penduduk bumi, sehingga mereka selalu diingatkan, meski kadang tak merasa.”
Aku hampir ngantuk mendengar penjelasan hujan yang panjang, lebar dan tinggi kalau saja tidak tersadarkan oleh lampu merah. Aku berhenti, dan ku rasakan bagian dalam tubuhku dingin dan basah.
“Hujan!!!” kataku lantang sambil menunduk ke bagian perut ke bawah, “Mengapa kau sampai masuk-masuk ke situ? Apa tak kau lihat seluruh badanku sudah keriput karena ulahmu, masih ingin kau buat keriput lagi bagian itu?”
“Apa yang bisa ku lakukan? Tuan gravitasi telah menarikku melalui serat-serat baju dan celanamu. Sebenarnya ku ingin berhenti diantara langit dan bumi hingga membuatku seperti tirai yang memenuhi bumi ini. Namun ku rasa guru kelasmu sudah pernah memperkenalkanmu perihal tuan gravitasi yang mempunyai nilai hampir sepuluh, yaitu 9,8 dan kita tak mungkin menghindarinya.”
Tak ku gubris lagi hujan itu yang membawa-bawa nama guruku. Padahal guru-guruku tak semuanya mampu menjelaskan perihal tuan gravitasi meskipun bertitel S1, S2, atau es thung-thung. Selain itu juga karena aku sudah sampai di depan rumah seorang gadis yang padanya ku berjanji. Ku rapikan diri yang telah kumal oleh hujan dan ku siapkan hatiku untuk memandang wajah cantik itu.
“Theeet...theeet...,” ku pencet bel yang menempel di tembok pengait pintu gerbang. Soerang wanita setengah baya muncul.
“Cari siapa Mas?” Tanyanya.
“E...e...anu Dini nya ada?” Jawabku menyebut nama seorang gadis.
“Oo...mbak Dini nya lagi keluar Mas!” Jawab wanita itu.
Ku dengar di belakangku serentetan suara hujan yang makin deras seakan bersorak untukku, tapi ku yakin bukan itu maksudnya. Ku tunggu, sedetik...dua menit...tiga puluh menit...dan satu jam pas tak kurang tak lebih, belum juga pulang. Akhirnya aku mohon diri dan ku pacu motorku kembali ke barak, maksudku ke kost. Lagi-lagi tidak sendiri, aku masih ditemani hujan yang selalu setia malam itu. Bedanya mereka tidak lagi banyak omong, mungkin mereka juga merasakan kekecewaanku. Aku juga yakin, hujan-hujan itu tak tahu jika akan seperti ini. Mereka hanya mengingatkan janji yang telah ku buat, dan itu harus ditepati. Yaah...walaupun akhirnya hanya sebuah janji hujan.
Tubuhku benar-benar keriput oleh hujan, tidak hanya badanku, tapi benar-benar seluruh tubuhku dari yang terluar sampai yang terdalam ketika aku sampai di depan kamar kost. Di pintu ada selembar kertas tertancap sebuah push pin dengan tulisan cakar ayam, tapi masih bisa terbaca:
“Tadi ada telpon dari Dini, ia nggak di rumah. Keluar nonton. Sorriii...”
(Jogja, January 30, 2004)
“Hei...kau telah ditunggu.” Ada suara yang membisik masuk ke dalam kamar.
“Kau telah ditunggu seseorang, bukankah kau telah janji padanya untuk datang?” Lanjutnya lagi.
Kulihat sekeliling tak ada orang, bahkan seekor burung pun yang biasanya berseliweran di depan pintu kamar tak menampakkan diri. Masa hujan itu yang bicara padaku, pikirku. Suara itu berulang, “Kau telah ditunggu...”
Ku amati, ku dengarkan dengan seksama, dan benar, hujan itulah yang berbicara padaku.
“Kau yang menyampaikan pesan itu?” Tanyaku pada hujan.
“Ya...” jawabnya.
“Mengapa kau mengatakannya?”
“Karena kau telah membuat janji.”
“Bukankah kau sadar, kau dan kawananmu turun ke bumi tak henti-hentinya, sehingga aku enggan melangkahkan kaki keluar.”
“Maaf teman, aku memang datang lebih sering akhir-akhir ini. Tapi ketahuilah, ini adalah tugas dari Tuhanku untuk membasahi bumi. Yaah, meskipun kadang aku agak berlebihan dan manusia-manusia seperti hidup di tengah lautan. Sekali lagi ketahuilah, ini adalah perintah Tuhan, dan aku tidak mungkin menolak atau mengingkarinya semudah kamu dan teman-temanmu melakukannya. Aku hanya mengingatkanmu bahwa kau punya janji. Janji adalah janji teman, dan itu akan di bawa sampai mati kalau tidak ditepati.”
“Ya...ya...aku akan berangkat, lagi pula aku memang ingin segera melihat wajah cantik itu. Tapi kalau aku boleh meminta, janganlah terlalu cepat jalanmu ke tanah. Pelankan sedikit kecepatanmu pada kecepatan gerimis. Bukankah semakin kencang dirimu, akan semakin sakit saat kau menumbuk tanah?”
“Teman, aku bukan benda pejal seperti kalian. Aku adalah cair dan tanah itu pun tidak padat, ia berongga. Pelan atau cepat, aku tetap akan terserap meski kadang lama. Tapi baiklah, aku akan berusaha menyampaikan permintaanmu kepada teman-temanku yang lain. Namun keputusan tetap di tangan Tuhan.”
Aku pun segera bergegas ke tempat seseorang yang padanya ku berjanji datang. Ku segera menstater motor, dan melaju menyusuri jalan-jalan yang agak sepi karena keengganan orang-orang untuk berbasahan. Aku tidak sendiri, aku masih ditemani hujan yang tak henti-henti mengguyur.
“Hei!!” kataku pada hujan. “Kadang kau tak muncul dalam waktu yang lama, apa yang sebenarnya kau lakukan?”
“Adanya aku adalah dari siklus atau perputaran. Saat aku jatuh, aku terserap lalu tertahan oleh akar-akar pohon yang ditanam manusia lalu aku muncul pada sumber-sumber air seperti sumur, danau atau mengalir ke laut untuk kemudian sinar matahari mengubahku ke bentuk lain yang sangat ringan, berkumpul menjadi awan dengan banyak model, cumullus atau cirrus. Dan angin-angin itu menggesekkan panasnya hingga aku pun berubah wujud lagi seperti semula, cair dan jatuh ke bumi. Namun karena ada sebagian atau mungkin banyak manusia yang merusak alamnya, menjadikan siklusku tidak lancar, bukan siklus kewanitaan, tapi siklus kehujanan. Tapi yang paling tak bisa ku sangkal, adalah kadang-kadang Tuhan menahanku untuk waktu yang lama agar tak mengunjungi bumi, ini adalah hak preogatip-Nya. Karena Tuhan masih terlalu sayang pada penduduk bumi, sehingga mereka selalu diingatkan, meski kadang tak merasa.”
Aku hampir ngantuk mendengar penjelasan hujan yang panjang, lebar dan tinggi kalau saja tidak tersadarkan oleh lampu merah. Aku berhenti, dan ku rasakan bagian dalam tubuhku dingin dan basah.
“Hujan!!!” kataku lantang sambil menunduk ke bagian perut ke bawah, “Mengapa kau sampai masuk-masuk ke situ? Apa tak kau lihat seluruh badanku sudah keriput karena ulahmu, masih ingin kau buat keriput lagi bagian itu?”
“Apa yang bisa ku lakukan? Tuan gravitasi telah menarikku melalui serat-serat baju dan celanamu. Sebenarnya ku ingin berhenti diantara langit dan bumi hingga membuatku seperti tirai yang memenuhi bumi ini. Namun ku rasa guru kelasmu sudah pernah memperkenalkanmu perihal tuan gravitasi yang mempunyai nilai hampir sepuluh, yaitu 9,8 dan kita tak mungkin menghindarinya.”
Tak ku gubris lagi hujan itu yang membawa-bawa nama guruku. Padahal guru-guruku tak semuanya mampu menjelaskan perihal tuan gravitasi meskipun bertitel S1, S2, atau es thung-thung. Selain itu juga karena aku sudah sampai di depan rumah seorang gadis yang padanya ku berjanji. Ku rapikan diri yang telah kumal oleh hujan dan ku siapkan hatiku untuk memandang wajah cantik itu.
“Theeet...theeet...,” ku pencet bel yang menempel di tembok pengait pintu gerbang. Soerang wanita setengah baya muncul.
“Cari siapa Mas?” Tanyanya.
“E...e...anu Dini nya ada?” Jawabku menyebut nama seorang gadis.
“Oo...mbak Dini nya lagi keluar Mas!” Jawab wanita itu.
Ku dengar di belakangku serentetan suara hujan yang makin deras seakan bersorak untukku, tapi ku yakin bukan itu maksudnya. Ku tunggu, sedetik...dua menit...tiga puluh menit...dan satu jam pas tak kurang tak lebih, belum juga pulang. Akhirnya aku mohon diri dan ku pacu motorku kembali ke barak, maksudku ke kost. Lagi-lagi tidak sendiri, aku masih ditemani hujan yang selalu setia malam itu. Bedanya mereka tidak lagi banyak omong, mungkin mereka juga merasakan kekecewaanku. Aku juga yakin, hujan-hujan itu tak tahu jika akan seperti ini. Mereka hanya mengingatkan janji yang telah ku buat, dan itu harus ditepati. Yaah...walaupun akhirnya hanya sebuah janji hujan.
Tubuhku benar-benar keriput oleh hujan, tidak hanya badanku, tapi benar-benar seluruh tubuhku dari yang terluar sampai yang terdalam ketika aku sampai di depan kamar kost. Di pintu ada selembar kertas tertancap sebuah push pin dengan tulisan cakar ayam, tapi masih bisa terbaca:
“Tadi ada telpon dari Dini, ia nggak di rumah. Keluar nonton. Sorriii...”
(Jogja, January 30, 2004)
Subscribe to:
Posts (Atom)