Sore hari langit masih terlihat cerah, semburat merah mulai terlihat menanda hari beranjak gelap. Pedagang DVD bajakan itu pun telah menata sedemikian berjajar barang dagangannya di depan emperan toko. Barat, Mandarin, Korea, kartun hingga lagu-lagu yang tak jarang melantun tersendat semua terpampang siap untuk dijajakan, lima ribu untuk VCD dan tujuh ribu rupiah untuk DVD. Satu dan beberapa orang telah berdiri melihat, memilih dan mencoba di layar tv yang tak lagi jernih. Pun beberapa manusia menjongkok untuk melihat deretan film yang tergantung di bagian bawah tersembunyi di balik film-film normal, sesekali pupil matanya melebar, sesekali berkerut di dahi, dan sesekali tersenyum samar saat telah didapatkan pilihan yang dicari, sebuah film dengan gambar perempuan-perempuan berbusana minim dan berpose aduhai terkumpul dalam satu disc banyak cerita. Sampai-sampai rela berimpit dalam jongok dalam ruang yang sempit demi untuk mendapatkan film “bohay” yang terbaik.
Jauh diatas kerumunan itu awan mulai berkumpul, berdiskusi untuk mengadakan sidak ke bumi. Semakin banyak, kelam dan berangin. Dan serentak menjatuhkan dirinya tanpa peringatan dalam suara yang berentetan. Sang pedagang DVD bajakan dan kerumunannya seketika kaget, bingung dan bubar. Orang-orang melarikan diri dari basah dan sang pedagang sibuk menyelamatkan barang modalnya dalam kardus, sedang hujan tak berencana mereda. Semakin menggenang dan menenggelamkan setiap mata kaki yang lewat.
Sang pedagang hanya duduk termenung di teras toko memeluk kardus yang berisi film barat, mandarin, korea dan beberapa tontonan “bohay” serta lagu-lagu yang tak jarang melantun tersendat, gajinya hari ini terpotong hujan. Tempatnya mengais rejeki yang beratapkan awan membuat pendapatannya ditentukan langit. Jika cerah, ia akan meraup rupiah sampai toko-toko disekitarnya tutup, jika hujan menyapa bahkan sebelum sang pedagang sempat menata dagangannya maka tak serupiahpun didapat. Dan di musim perayaan hujan kali ini, sang pedagang lebih sering berdiam diri di rumah kontrakannya yang berarti tanpa penghasilan, dan para penggemar film termasuk film “bohay” musti menahan diri sampai hujan kembali reda dari hari.
[Desember 07, 2009]
Tuesday, December 8, 2009
Thursday, December 3, 2009
HUJAN AIR
“Kesempatan telah dilalui....pun saat hujan kembali mereda, dan dunia nampak lebih cerah dari biasanya...”
Berhelai rambut yang tertiup menggores pipi putih, mata oriental memandang kejauhan berharap sesuatu kan datang. Udara semakin berisik saat awan gelap mulai mengayom, dingin menjadi hal yang lebih dulu ada mendekap bahu yang terbuka sebelah. Bibir tipis mulai tergigit mengerling mata ke segala arah, tersentak suara petir yang membahana.....yang dinanti belum juga tiba.
Kegelisahan merayap ke sekujur tubuh, dan kerutan halus mulai nampak di kening.....”cupp!” setetes hujan menciumnya diikuti rentetan berikutnya, semakin beringas oleh gairah yang lama terendap. Sang mata oriental tersenyum....memejamkan mata, menengadahkan kedua tangan dan wajah dan berputar riang diiringi tawa-tawa kecil.
“Ah, kenapa kau lama sekali?” tanyanya tanpa meninggalkan lesung pipit yang tersungging.
“Maafkan aku...” Jawabnya
“Kau pikir aku senang ditemani awan yang selalu muram dan petir yang tak pernah bersuara pelan? Aku telah menantimu berminggu-minggu sampai entah kapan terakhir kali kita bicara.”
“Maaf,...”
“Ah, lupakan maafmu....Apa ceritamu hari ini?”
“Tak ada cerita.”
“Kau masih saja malu bicara, padahal kita sudah puluhan tahun kenal.”
“Kau masih kecil waktu itu...”
“Dan sekarang.....???” tanya sang mata oriental yang tak lagi berputar-putar.
“Hmm....”
“Eh, kau terasa lebih hangat hari ini. Ada yang berbeda?”
“Tidak, masih seperti biasanya. Air bersih, air setengah bersih, air setengah kotor dan air kotor semua bercampur di diriku. Aku tak bisa memilihnya, tak seperti kamu yang diberi kesempatan untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Tapi, kau tak pernah memberikan sisi burukmu pada alam ini, kecuali dampak dari kelebihan berat badanmu yang bisa menyebabkan banjir. Kau tak pernah menumpahkan dirimu dalam bentuk comberan, hampir semua manusia bisa menerimamu, termasuk diriku.”
“Ah,....”
“Kau juga selalu lurus, tak pernah berbelak-belok dalam bersikap seperti kebanyakan manusia, yang ada hanya kadang kau condong kesana atau kesini, tapi arahmu selalu lurus.”
“Hmm..kau masih kecil waktu itu...”
“Lalu..?”
“Lalu...aku musti mengakhiri obrolan kita kalau kau tak kenakan payungmu.”
“Kau ingin aku menghindarimu?”
“Aku ingin agar aku tak terlalu dalam menyentuhmu. Lihat... tak ada rongga diantara kulit dan bajumu, sekarang telah menyatu olehku. Air yang terserap oleh kain yang kau kenakan telah menampakkan keindahanmu, keindahan yang sebagian besar orang berani membayar berapapun.”
“Kau tidak...?”
“Tak ada lagi yang bisa ku tawarkan, karena aku adalah penyusun sebagian besar dirimu...”
[Dec 02, 2009]
Berhelai rambut yang tertiup menggores pipi putih, mata oriental memandang kejauhan berharap sesuatu kan datang. Udara semakin berisik saat awan gelap mulai mengayom, dingin menjadi hal yang lebih dulu ada mendekap bahu yang terbuka sebelah. Bibir tipis mulai tergigit mengerling mata ke segala arah, tersentak suara petir yang membahana.....yang dinanti belum juga tiba.
Kegelisahan merayap ke sekujur tubuh, dan kerutan halus mulai nampak di kening.....”cupp!” setetes hujan menciumnya diikuti rentetan berikutnya, semakin beringas oleh gairah yang lama terendap. Sang mata oriental tersenyum....memejamkan mata, menengadahkan kedua tangan dan wajah dan berputar riang diiringi tawa-tawa kecil.
“Ah, kenapa kau lama sekali?” tanyanya tanpa meninggalkan lesung pipit yang tersungging.
“Maafkan aku...” Jawabnya
“Kau pikir aku senang ditemani awan yang selalu muram dan petir yang tak pernah bersuara pelan? Aku telah menantimu berminggu-minggu sampai entah kapan terakhir kali kita bicara.”
“Maaf,...”
“Ah, lupakan maafmu....Apa ceritamu hari ini?”
“Tak ada cerita.”
“Kau masih saja malu bicara, padahal kita sudah puluhan tahun kenal.”
“Kau masih kecil waktu itu...”
“Dan sekarang.....???” tanya sang mata oriental yang tak lagi berputar-putar.
“Hmm....”
“Eh, kau terasa lebih hangat hari ini. Ada yang berbeda?”
“Tidak, masih seperti biasanya. Air bersih, air setengah bersih, air setengah kotor dan air kotor semua bercampur di diriku. Aku tak bisa memilihnya, tak seperti kamu yang diberi kesempatan untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Tapi, kau tak pernah memberikan sisi burukmu pada alam ini, kecuali dampak dari kelebihan berat badanmu yang bisa menyebabkan banjir. Kau tak pernah menumpahkan dirimu dalam bentuk comberan, hampir semua manusia bisa menerimamu, termasuk diriku.”
“Ah,....”
“Kau juga selalu lurus, tak pernah berbelak-belok dalam bersikap seperti kebanyakan manusia, yang ada hanya kadang kau condong kesana atau kesini, tapi arahmu selalu lurus.”
“Hmm..kau masih kecil waktu itu...”
“Lalu..?”
“Lalu...aku musti mengakhiri obrolan kita kalau kau tak kenakan payungmu.”
“Kau ingin aku menghindarimu?”
“Aku ingin agar aku tak terlalu dalam menyentuhmu. Lihat... tak ada rongga diantara kulit dan bajumu, sekarang telah menyatu olehku. Air yang terserap oleh kain yang kau kenakan telah menampakkan keindahanmu, keindahan yang sebagian besar orang berani membayar berapapun.”
“Kau tidak...?”
“Tak ada lagi yang bisa ku tawarkan, karena aku adalah penyusun sebagian besar dirimu...”
[Dec 02, 2009]
Saturday, October 3, 2009
Hari ini bangun bersamaan dengan rengekan Aqeela yang merasa haus, karena semalaman tidur berbalur keringat di sekujur tubuh terutama kepala. dehidrasi menghinggapi dalam kebelum sempurnaan sadar plus kata-kata yang belum mampu terucap sempurna....mengemukalah rengekan yang tidak butuh banyak susunan huruf dan kata...."eeeek......eeeekk..." begitulah terdengarnya yang akan berlanjut menjadi tangisan saat nol respon yang ia terima.
seketika rengekan itu mengaktifkan sensor-sensor pikiran dan tubuhku bahwa ada yang memerlukan bantuan di luar sana. ya...sejak Aqeela lahir, aku dan istri menjadi semacam...memiliki kepekaan yang lebih dibanding sebelumnya. Jangankan rengekan, suara tv pun kadang tak membuat kami bergeming dari keterlelapan tidur. Tapi begitu suara Aqeela yang menyapa....seketika kami akan bergegas melihat apa yang terjadi gerangan, tak peduli kantuk sedang melanda.
Hmmm....sebotol susu yang ku buat dengan takaran yang telah disiapkan sebelum tidur telah menyumbat kedua bibir manis anakku....dan dunia kembali terdiam...kecuali..groookk grroookkk....
seketika rengekan itu mengaktifkan sensor-sensor pikiran dan tubuhku bahwa ada yang memerlukan bantuan di luar sana. ya...sejak Aqeela lahir, aku dan istri menjadi semacam...memiliki kepekaan yang lebih dibanding sebelumnya. Jangankan rengekan, suara tv pun kadang tak membuat kami bergeming dari keterlelapan tidur. Tapi begitu suara Aqeela yang menyapa....seketika kami akan bergegas melihat apa yang terjadi gerangan, tak peduli kantuk sedang melanda.
Hmmm....sebotol susu yang ku buat dengan takaran yang telah disiapkan sebelum tidur telah menyumbat kedua bibir manis anakku....dan dunia kembali terdiam...kecuali..groookk grroookkk....
Aku pernah menjadi mahasiswa, pernah pula berpikir seperti mahasiswa. Bukan pikiran yang sangat intelektual, membicarakan tentang pembaharuan, demokrasi, keadilan kaum lemah dan sebagainya. Atau pula pikiran tentang akademik, ilmu, teori eksak dan sebagainya.....bukan.
Aku hanya berpikir apa kewajiban dan hak mahasiswa dan dosen....
ah...aku ngantuk dari kata.
salam
Aku hanya berpikir apa kewajiban dan hak mahasiswa dan dosen....
ah...aku ngantuk dari kata.
salam
Friday, October 2, 2009
Tulis
Tidak selamanya menulis menjadi sasuatu yang menyenangkan, kadang ia malah membuat stress, tegang dan frustasi, terlebih jika tulisan itu berada pada ruang publik. Kata-kata indah, penuh makna, menggelitik dan sebagainya akan berusaha dirangkai sedemikian rupa sehingga "layak dikonsumsi". Kelayakan inilah yang membuat orang kadang menjadi tertekan akannya. Pikiran apakah tulisannya sudah layak atau tidak, bisa diterima atau sebaliknya-dihujat, atau yang lain, sehingga jari-jemari tak pernah sampai menggoreskan kata. Dan selamanya menjadi pembaca, yang hanya bisa manggut-manggut jika tersentuh logikanya atau tersenyum karena terakomodir sisi humornya oleh suatu tulisan.
Namun hal tersebut wajar adanya, latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda yang akan menyebabkan muncul atau tidaknya kondisi tersebut. Tak jarang orang yang teramat sangat lancar dalam menulis dan menghasilkan banyak karya yang bisa dinikmati oleh orang lain. Meskipun masih terdapat pula penulis-penulis yang menulis tanpa arah yang jelas, "hajar" saja layaknya orang autis yang seakan mempunyai dunia sendiri. Tak peduli orang lain memahaminya atau tidak, tak masalah jika ada yang tersinggung.
Meski demikian, semakin banyaknya media menulis di jagad maya ini mari kita manfaatkan untuk menggali, mengapresiasi dan membentuk diri serta lingkungan. Bukan seuatu maslah jika kita memulai menulis dengan cara "autis" terlebih dahulu, sebelum kita mampu menyampaikan sesuatu yang tertata.
<>faruq031009<>
Namun hal tersebut wajar adanya, latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda yang akan menyebabkan muncul atau tidaknya kondisi tersebut. Tak jarang orang yang teramat sangat lancar dalam menulis dan menghasilkan banyak karya yang bisa dinikmati oleh orang lain. Meskipun masih terdapat pula penulis-penulis yang menulis tanpa arah yang jelas, "hajar" saja layaknya orang autis yang seakan mempunyai dunia sendiri. Tak peduli orang lain memahaminya atau tidak, tak masalah jika ada yang tersinggung.
Meski demikian, semakin banyaknya media menulis di jagad maya ini mari kita manfaatkan untuk menggali, mengapresiasi dan membentuk diri serta lingkungan. Bukan seuatu maslah jika kita memulai menulis dengan cara "autis" terlebih dahulu, sebelum kita mampu menyampaikan sesuatu yang tertata.
<>faruq031009<>
Thursday, June 11, 2009
Ningsih Dalam Sepotong Gethuk (bag. 03)
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Waktu ku buka sebungkus gethuk dan menawarkanya padamu. Kau mengambil sepotong dan memakannya. Aku memperhatikanmu, kau memang cantik, Sih. Dengan baju putih lengan panjang dan rok panjang berwarna biru, benar-benar membuatmu anggun. Tak ada berbulir-bulir padi di sawah ini pun yang mampu mengenyangkan hatiku selain melihatmu. Kerudungmu masih terlilit di pundak dan Al Qur’an itu pun masih tergenggam erat di tangan kirimu. Seperti biasa, setiap sore kau menuju ke musholla untuk mengaji mempelajari kitab suci dan setelah itu perlahan derajatmu ditingkatkan.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Tak ada keraguan sedikit pun di diriku dan otakku yang dulu pernah berselisih. Tak sehelai rumput di sawah dan tak ada setangkai padi pun yang menegakkan dirinya waktu itu. Waktu hatiku memutuskan untuk menempatkanmu lebih dari gadis-gadis yang ada, yang pernah ku kenal. Tak seorang gadis pun yang mengisi ruang-ruang hatiku sebanyak dan setenteram dirimu, Sih. Kau masih memakan sepotong gethuk itu, Sih, yang seakan terlalu banyak sehingga tak habis-habis, waktu hatiku mengucapkannya. Kau menghentikan makanmu, sepotong gethuk sisa masih ada di tanganmu, kau memperhatikanku tajam.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Waktu kau ku tanya mengapa kau hentikan makanmu. Dengan senyum tipis, bahkan sangat tipis dan tertahan, kau berucap.
“Gethuk ini terlalu manis untuk ku telan, aku takut mencernanya. Aku takut lambungku tak mampu menyerap dan hatiku tak mampu merasakan rasa sayang gethuk ini.”
Aku mengambil sepotong gethuk dalam bungkusan dan memakannya, perlahan ku kunyah dan ku telan. Mengapa...mengapa...mengapa gethuk ini terasa pahit. Tidak seperti biasanya yang selalu enak dimakan.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Aku pun masih bertanya, mengapa aku tak merasakan apa-apa? Merasakan apa yang kau rasakan waktu itu, Sih. Aku hanya merasakan gethuk itu terasa pahit tidak seperti biasanya. Dalam ketidakmampuanku merasakan rasa itu, kau meletakkan sepotong gethuk sisamu, memegang erat tanganku menatap tajam mataku. Tapi aku tak mampu memandang mata teduhmu itu, Sih, dan kau berlalu menyusuri pematang dan semakin jauh seiring suara adzan magrib yang berkumandang mengangkasa bersama senja merah di ufuk barat.
“......Khaya’alas sholaah, Khaya’alal falaakh.....” yah, ternyata Tuhan memang lebih tahu bagaimana memperlakukanku!!
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Tak ada keraguan sedikit pun di diriku dan otakku yang dulu pernah berselisih. Tak sehelai rumput di sawah dan tak ada setangkai padi pun yang menegakkan dirinya waktu itu. Waktu hatiku memutuskan untuk menempatkanmu lebih dari gadis-gadis yang ada, yang pernah ku kenal. Tak seorang gadis pun yang mengisi ruang-ruang hatiku sebanyak dan setenteram dirimu, Sih. Kau masih memakan sepotong gethuk itu, Sih, yang seakan terlalu banyak sehingga tak habis-habis, waktu hatiku mengucapkannya. Kau menghentikan makanmu, sepotong gethuk sisa masih ada di tanganmu, kau memperhatikanku tajam.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Waktu kau ku tanya mengapa kau hentikan makanmu. Dengan senyum tipis, bahkan sangat tipis dan tertahan, kau berucap.
“Gethuk ini terlalu manis untuk ku telan, aku takut mencernanya. Aku takut lambungku tak mampu menyerap dan hatiku tak mampu merasakan rasa sayang gethuk ini.”
Aku mengambil sepotong gethuk dalam bungkusan dan memakannya, perlahan ku kunyah dan ku telan. Mengapa...mengapa...mengapa gethuk ini terasa pahit. Tidak seperti biasanya yang selalu enak dimakan.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Aku pun masih bertanya, mengapa aku tak merasakan apa-apa? Merasakan apa yang kau rasakan waktu itu, Sih. Aku hanya merasakan gethuk itu terasa pahit tidak seperti biasanya. Dalam ketidakmampuanku merasakan rasa itu, kau meletakkan sepotong gethuk sisamu, memegang erat tanganku menatap tajam mataku. Tapi aku tak mampu memandang mata teduhmu itu, Sih, dan kau berlalu menyusuri pematang dan semakin jauh seiring suara adzan magrib yang berkumandang mengangkasa bersama senja merah di ufuk barat.
“......Khaya’alas sholaah, Khaya’alal falaakh.....” yah, ternyata Tuhan memang lebih tahu bagaimana memperlakukanku!!
Ningsih Dalam Sepotong Gethuk (bag. 02)
Aku tak merasakan apa-apa,Sih. Hanya perasaan senang dan ingin segera ketemu dengan kamu saat ku pertama kali main ke rumahmu. Pagar dengan tinggi sepinggang mengitari sebuah rumah bercat hijau dengan hamparan taman tersusun rapi. Bouganville aneka warna di sebelah kiri berpadu dengan melati yang tampak baru kuncup menebarkan pesona alam berpadu dalam keindahan. Ada juga sebuah pohon mangga besar berhias anggrek di sepanjang batang. Lalu dirimu muncul dari pintu bertahtahkan ukiran jawa coba menyambutku. Aku merasa senang Sih, melihatmu segar dengan rambut masih basah sehabis mandi menebar senyum ke arahku. Sunggguh, ada yang mendesir di dada, Sih. Tapi aku pura-pura tidak tahu apa itu, yaah, kemunafikan lelaki terhadap kecantikan perempuan yang memunculkan perasaan-perasaan suka. Kau mempersilakanku duduk di kursi taman yang terbuat dari bamboo. Kita ngobrol, becanda dengan banyolanku yang sengaja kurancang untuk membuatmu tertawa. Hingga tak jarang saking kerasnya tawamu, setiap orang yang lewat selalu menoleh ke arah kita, tak terkecuali orang tuamu yang sesekali melongok dari dalam rumah.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Saat pertemuan kita berulang dan semakin sering dan kau pun tak enggan menjalaninya. Aku datang ke rumahmu setiap kali ku ingin melihat wajah cantikmu, dan sayangnya setiap detik ku ingin melihatmu. Maka seharusnya setiap detik pula aku harus ke rumahmu, tapi itu tidak mungkin. Aku siapa dan kau siapa. Kita juga bukan suami istri, setidaknya belum. Meski itu cita-citaku yang ingin ku usahakan. Aku mulai berani mengajakmu keluar, sekedar jalan-jalan masuk pertokoan atau pergi melihat tontonan. Karena di desa kita sering ada layar tancep dengan film-film lokal tempo dulu. Tapi bukan itu yang terpenting, karena selalu ada di dekatmu, ngobrol denganmu, dan tentu saja menikmati wajah cantikmu adalah lebih dari segalanya. Kadang kita pulang larut, dan ayahmu sudah berdiri tegak di depan pintu membuatku bergeming. Dalam anganku selalu ku pikirkan ayahmu berdiri dengan seragam besi memanggul sebuah gada, seperti senjata bima dengan tutup kepala bertanduk dua, bersiap-siap melumat diriku karena membawamu. Tapi itu tidak terjadi, ayahmu hanya diam saja dengan tatapan mata tajam dan itu cukup membuatku sadar untuk lebih berhati-hati dan tahu diri.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Melihatmu setiap pagi pergi sekolah. Sekolah yang tidak perlu lagi berseragam, kalau orang-orang menyebutnya sekolah kuliah. Yaah, aku memang tidak pernah merasakannya, meski itu bukan keinginanku. Ingin ku gantungkan cita-citaku setinggi langit, namun langit itu bertingkat-tingkat dan aku hanya mampu meraih langit pertama dan kau dengan orang-orang setingkatmu terus melaju menggapai langit-langit lain yang lebih tinggi. Aku tidak menyesal, Sih, karena aku yakin Tuhanku tahu bagaimana memperlakukanku. Aku bersyukur mengenalmu, jadi aku tahu sedikit bagaimana orang yang sedang sekolah kuliah. Dengan tas pinggang itu kau berjalan menuju ke sekolahmu melewati hamparan sawah yang padanya ku setiap hari bergumul, yaah petani dan sawahnya. Kita memang berbeda dari segi ijasah-ijasahan, tapi kupikir kita sama dalam berandai dan berangan. Aku berangan memilikimu, dan kau berandai... ...ah, aku tak tahu apa yang kau andaikan. Seandainya saja sama.
”Pung, Banguuuuun!!!!!!!” teriakku pada otakku. “Hidup ini tidak hanya berandai dan berangan, ada yang harus dikerjakan. Baguuuun, jalan, dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan!!”
“Biarin!! Lha wong mikir tentang Ningsih kok ndak boleh!” jawab otakku tak mau kalah.
Saking serunya diriku dan otakku berselisih, sampai-sampai tak bisa dilerai. Hingga suara itu memisahkannya.
“Pung, lagi ngapain, kok bengong? Jangan kebanyakan ngalamun, ntar kemasukan setan.” Kata suara itu.
Aku memang tak asing dengan suara itu, siapa lagi kalau bukan suara Ningsih yang terkasih. Ternyata ia tadi memperhatikanku. Dalam hati aku berucap, “kalau setannya kamu aku nggak keberatan.”
“E...e...enggak kok, Cuma lagi mikir tentang...” aku kebingungan menjawab, lalu kataku sekenanya, “...lagi mikir tentang gethuk!
Kau agak bingung mendengar jawabanku, Sih. Kau bertanya ada apa dengan gethuk? Dan aku pun menjawab bahwa gethuk itu enak, meski makanan lokal, kalau dibuat beraneka rupa, maka menjadi makanan yang istimewa. Kau pun mengiyakannya, meski kau mungkin tak menyadari jika pertemuan kita pun bermula dari gethuk. Lalu aku mengajakmu makan gethuk seperti yang dulu pernah kita beli di tukang gethuk itu esok sore di gubuk pematang sawah. Kau tak keberatan dan ku tunggu hari itu.
-->
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Saat pertemuan kita berulang dan semakin sering dan kau pun tak enggan menjalaninya. Aku datang ke rumahmu setiap kali ku ingin melihat wajah cantikmu, dan sayangnya setiap detik ku ingin melihatmu. Maka seharusnya setiap detik pula aku harus ke rumahmu, tapi itu tidak mungkin. Aku siapa dan kau siapa. Kita juga bukan suami istri, setidaknya belum. Meski itu cita-citaku yang ingin ku usahakan. Aku mulai berani mengajakmu keluar, sekedar jalan-jalan masuk pertokoan atau pergi melihat tontonan. Karena di desa kita sering ada layar tancep dengan film-film lokal tempo dulu. Tapi bukan itu yang terpenting, karena selalu ada di dekatmu, ngobrol denganmu, dan tentu saja menikmati wajah cantikmu adalah lebih dari segalanya. Kadang kita pulang larut, dan ayahmu sudah berdiri tegak di depan pintu membuatku bergeming. Dalam anganku selalu ku pikirkan ayahmu berdiri dengan seragam besi memanggul sebuah gada, seperti senjata bima dengan tutup kepala bertanduk dua, bersiap-siap melumat diriku karena membawamu. Tapi itu tidak terjadi, ayahmu hanya diam saja dengan tatapan mata tajam dan itu cukup membuatku sadar untuk lebih berhati-hati dan tahu diri.
Aku tak merasakan apa-apa, Sih. Melihatmu setiap pagi pergi sekolah. Sekolah yang tidak perlu lagi berseragam, kalau orang-orang menyebutnya sekolah kuliah. Yaah, aku memang tidak pernah merasakannya, meski itu bukan keinginanku. Ingin ku gantungkan cita-citaku setinggi langit, namun langit itu bertingkat-tingkat dan aku hanya mampu meraih langit pertama dan kau dengan orang-orang setingkatmu terus melaju menggapai langit-langit lain yang lebih tinggi. Aku tidak menyesal, Sih, karena aku yakin Tuhanku tahu bagaimana memperlakukanku. Aku bersyukur mengenalmu, jadi aku tahu sedikit bagaimana orang yang sedang sekolah kuliah. Dengan tas pinggang itu kau berjalan menuju ke sekolahmu melewati hamparan sawah yang padanya ku setiap hari bergumul, yaah petani dan sawahnya. Kita memang berbeda dari segi ijasah-ijasahan, tapi kupikir kita sama dalam berandai dan berangan. Aku berangan memilikimu, dan kau berandai... ...ah, aku tak tahu apa yang kau andaikan. Seandainya saja sama.
”Pung, Banguuuuun!!!!!!!” teriakku pada otakku. “Hidup ini tidak hanya berandai dan berangan, ada yang harus dikerjakan. Baguuuun, jalan, dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan!!”
“Biarin!! Lha wong mikir tentang Ningsih kok ndak boleh!” jawab otakku tak mau kalah.
Saking serunya diriku dan otakku berselisih, sampai-sampai tak bisa dilerai. Hingga suara itu memisahkannya.
“Pung, lagi ngapain, kok bengong? Jangan kebanyakan ngalamun, ntar kemasukan setan.” Kata suara itu.
Aku memang tak asing dengan suara itu, siapa lagi kalau bukan suara Ningsih yang terkasih. Ternyata ia tadi memperhatikanku. Dalam hati aku berucap, “kalau setannya kamu aku nggak keberatan.”
“E...e...enggak kok, Cuma lagi mikir tentang...” aku kebingungan menjawab, lalu kataku sekenanya, “...lagi mikir tentang gethuk!
Kau agak bingung mendengar jawabanku, Sih. Kau bertanya ada apa dengan gethuk? Dan aku pun menjawab bahwa gethuk itu enak, meski makanan lokal, kalau dibuat beraneka rupa, maka menjadi makanan yang istimewa. Kau pun mengiyakannya, meski kau mungkin tak menyadari jika pertemuan kita pun bermula dari gethuk. Lalu aku mengajakmu makan gethuk seperti yang dulu pernah kita beli di tukang gethuk itu esok sore di gubuk pematang sawah. Kau tak keberatan dan ku tunggu hari itu.
-->
Subscribe to:
Posts (Atom)